Ancaman Trump dan Tuntutan Iran Jelang Perundingan di Pakistan

Ancaman Trump dan Tuntutan Iran Jelang Perundingan di Pakistan

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 12 Apr 2026 06:10 WIB
Bendera Iran dan AS
Ilustrasi. bendera Iran dan Amerika Serikat (Foto: Reuters)
Washington -

Presiden Amerika Serikat (AS) kembali melontarkan ancaman untuk Iran. Ancamannya tak main-main, yakni berupa 'penghancuran total' bila negosiasi yang digelar di Pakistan berujung kegagalan.

Sebagai informasi, sebagai bagian dari gencatan senjata selama dua minggu, Iran dan AS sepakat untuk melakukan pertemuan di Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan perundingan membahas perdamaian permanen.

Trump memperingatkan bahwa militer AS mempersiapkan diri dengan "amunisi terbaik" untuk kembali menyerang Iran jika kesepakatan gagal tercapai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sedang melakukan pengaturan ulang. Kita sedang mengisi kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat, bahkan lebih baik dari yang kita gunakan sebelumnya, dan kita telah menghancurkan mereka," kata Trump kepada New York Post, seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (11/4/2026).

Dalam pernyataan yang disampaikan tak lama setelah Wakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Islamabad, Pakistan, untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan dengan Iran.

"Kita sedang mengisi kapal-kapal dengan senjata terbaik yang pernah dibuat, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang kita gunakan sebelumnya untuk melakukan penghancuran total," tegas Trump dalam pernyataannya.

"Dan jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan menggunakannya, dan kita akan menggunakannya dengan sangat efektif," ucapnya memperingatkan.

The U.S. Navy destroyer USS Gravely (DDG-107) approaches Port of Spain for joint training with the Trinidad and Tobago Defence Force to strengthen regional security and military cooperation, as seen from Port of Spain, Trinidad and Tobago, October 26, 2025. REUTERS/Andrea De Silva Purchase Licensing RightsKapal perang Amerika Serikat (AS). Foto: REUTERS/Andrea De Silva Purchase Licensing Rights

Lebih lanjut, Trump mempertanyakan kejujuran tim negosiasi Iran, yang dipimpin oleh ketua parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, dan mencakup Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi, serta para pejabat Teheran lainnya.

Trump mengatakan AS berurusan dengan orang-orang "yang kita tidak tahu apakah mereka mengatakan yang sebenarnya atau tidak".

"Di depan kita, mereka menyingkirkan semua senjata nuklir, semuanya hilang. Dan kemudian mereka keluar ke pers dan mengatakan, 'Tidak, kami ingin memperkaya uranium'. Jadi kita akan mengetahuinya," ucap Trump.

Dalam pernyataan terpisah via media sosial Truth Social, Trump mengatakan bahwa Iran "tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu apa pun, selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur perairan internasional".

"Satu-satunya alasan mereka masih hidup hari ini adalah untuk bernegosiasi!" sebutnya.

Tuntutan Iran

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset-aset Teheran yang dibekukan di luar negeri harus dipastikan, sebelum dimulainya negosiasi dengan AS.

Ghalibaf yang memimpin delegasi Iran, seperti dilansir Anadolu Agency dan Al Arabiya, Sabtu (11/4), memicu keraguan terbaru untuk perundingan dengan AS, setelah menuntut gencatan senjata di Lebanon dan pencairan "aset-aset yang diblokir" sebelum negosiasi dimulai, yang dijadwalkan pada Sabtu (11/4).

Korban tewas akibat perang antara Israel dengan Hizbullah di Lebanon terus bertambah. Terkini, ada 4.047 orang dilaporkan tewas di Lebanon.Ilustrasi. perang di Lebanon (Foto: Reuters/Stoyan Nenov)

"Dua dari langkah-langkah yang telah disepakati bersama antara kedua pihak, belum dilaksanakan: gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset-aset Iran yang diblokir sebelum dimulainya negosiasi," ujarnya.

"Kedua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai," tegas Ghalibaf dalam pernyataan via media sosial X.

Belum ada tanggapan langsung dari AS soal tuntutan Iran tersebut.

Iran berulang kali menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu harus diterapkan juga di Lebanon, di mana Israel masih melancarkan pengeboman terhadap Hizbullah yang didukung Iran. Washington dan Tel Aviv menyangkal bahwa gencatan senjata itu juga mencakup Lebanon.

Perkiraan nilai aset Iran yang dibekukan di luar negeri karena sanksi AS bervariasi. Namun pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang tindakan koersif sepihak, Alena Douhan, memperkirakan pada tahun 2022 lalu bahwa angkanya mencapai US$ 100 miliar hingga US$ 120 miliar.

Lihat juga Video: Delegasi Iran-AS Sudah Berkumpul di Islamabad Jelang Perundingan

Halaman 2 dari 4
(isa/isa)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini