Lebanon Sebut Korban Tewas Serangan Israel Bertambah Jadi 357 Orang

Lebanon Sebut Korban Tewas Serangan Israel Bertambah Jadi 357 Orang

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 11 Apr 2026 02:25 WIB
Serangan udara Israel menghancurkan infrastruktur di selatan Beirut. Memperburuk ketegangan antara Hizbullah dan Israel.
Foto: Serangan udara Israel menghancurkan infrastruktur di selatan Beirut. Memperburuk ketegangan antara Hizbullah dan Israel. (REUTERS/Mohammed Yassin)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan Lebanon menyampaikan jumlah korban tewas akibat serangan Israel di seluruh negeri pada Rabu lalu terus bertambah. Kini ada 357 orang dilaporkan tewas dan 1.223 luka-luka.

Dilansir AFP, Sabtu (11/4/2026) jumlah korban tewas itu belum final. Kemungkinan masih terus bertambah.

"Jumlah korban tewas masih belum final, karena masih berlangsungnya pembersihan puing-puing dan keberadaan sejumlah besar jenazah manusia yang memerlukan pengujian DNA," kata pernyataan kementerian Kesehatan Lebanon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kementerian Kesehatan Lebanon juga menyampaikan jumlah total korban tewas di Lebanon sejak perang meletus antara Israel dan Hizbullah pada 2 Maret menjadi 1.953 orang tewas dan 6.303 orang terluka.

Sebelumnya, sebanyak 182 orang tewas akibat serangan Israel di berbagai wilayah negara, termasuk ibu kota Beirut. Lebanon mengumumkan sebagai hari berkabung nasional usai ratusan orang tewas akibat serangan Israel.

Dilansir CNN dan AFP, Kamis (9/4/2026), sebanyak 890 orang lainnya terluka dalam serangan pada Rabu (8/4), menurut kementerian tersebut.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan hari Kamis Kamis (9/4) sebagai hari berkabung nasional setelah serangan Israel mengguncang negara itu dan menewaskan lebih dari 100 orang, menurut data sementara dari kementerian kesehatan.

Dalam sebuah pernyataan, kantor perdana menteri mengatakan Kamis (9/4) akan menjadi "hari berkabung nasional untuk para martir dan korban luka dari serangan Israel yang menargetkan ratusan warga sipil yang tidak bersalah dan tidak berdaya", memerintahkan penutupan administrasi publik dan penurunan bendera.

Kantor Salam mengatakan bahwa ia terlibat dalam upaya diplomatik "untuk memobilisasi semua sumber daya politik dan diplomatik Lebanon untuk menghentikan mesin pembunuh Israel".

(dek/dek)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini