Kuwait mengecam serangan drone yang menargetkan fasilitas vital di wilayahnya pada Kamis (9/4) malam, yang disebut didalangi oleh Iran dan proksinya. Namun, Garda Revolusi Iran membantah telah melancarkan serangan terhadap target di Kuwait, setelah gencatan senjata disepakati dengan Amerika Serikat (AS).
Kementerian Luar Negeri Kuwait, seperti dilansir Reuters, Jumat (10/4/2026), mengecam serangan di wilayahnya itu sebagai pelanggaran kedaulatan dan wilayah udara negara tersebut.
Kantor berita Kuwait melaporkan pada Kamis (9/4) bahwa sebuah lokasi Garda Nasional negara itu menjadi target serangan drone, yang menyebabkan kerusakan material yang signifikan. Untungnya, tidak ada korban luka akibat serangan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengatakan bahwa serangan itu merusak upaya gencatan senjata antara AS dan Iran.
Ditegaskan oleh Kementerian Luar Negeri Kuwait bahwa pihaknya berhak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan dan stabilitas wilayahnya.
Dalam pernyataannya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyampaikan bantahan via media pemerintah Teheran. Ditegaskan oleh IRGC bahwa pasukannya tidak melancarkan serangan apa pun terhadap negara-negara Teluk selama periode gencatan senjata dua minggu, yang disepakati dengan AS pada Selasa (7/4).
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran belum meluncurkan rudal apa pun ke negara mana pun selama jam gencatan senjata hingga saat ini," tegas IRGC dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (9/4) malam, seperti dilansir Press TV.
IRGC juga menyatakan jika Iran melancarkan serangan, maka mereka akan mengumumkannya secara publik dalam pernyataan resmi.
"Jika Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran menyerang target apa pun, mereka akan dengan berani mengumumkannya dalam pernyataan resmi, dan tindakan apa pun yang tidak tercantum dalam pernyataan yang dibuat oleh Republik Islam Iran tidak ada hubungannya dengan kami," kata IRGC dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, IRGC menambahkan jika laporan-laporan media soal serangan terhadap negara-negara Teluk itu terbukti akurat, maka "tidak diragukan lagi, itu adalah pekerjaan musuh Zionis atau Amerika Serikat".
Teheran menuduh Israel melakukan provokasi atau mendalangi operasi false-flag untuk mengacaukan kawasan dan mengganggu gencatan senjata.











































