Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran bahwa pembalasan akan segera datang, setelah Teheran menyerang fasilitas pengolahan air dan pembangkit listrik di Kuwait, serta kilang minyak di Israel.
Kawasan Timur Tengah memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari. Total sedikitnya 1.340 orang tewas akibat rentetan serangan AS-Israel di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Baru-baru ini, Teheran meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur dengan menggempur fasilitas pengolahan air dan pembangkit listrik di wilayah Kuwait, dan menyerang kilang minyak di Haifa, Israel, hingga terbakar dengan rentetan rudal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya dalam wawancara dengan New York Post tentang responsnya terhadap serangan Teheran tersebut, seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (31/3/2026), Trump menjawab: "Anda akan melihatnya segera."
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump sebelumnya melontarkan ancaman, via media sosial Truth Social, bahwa AS akan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya" semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan terminal ekspor minyak di Pulau Kharg, serta pabrik desalinasi air Iran, jika perundingan, yang dimediasi Pakistan, Turki, dan Mesir, berujung kegagalan.
Saat Trump mengerahkan lebih banyak kekuatan militer ke Timur Tengah yang dapat menimbulkan kerusakan dahsyat terhadap Iran, dia juga mendorong sisa-sisa rezim Teheran untuk mencapai kesepakatan sebelum terlambat dan mengancam akan menyerang di titik paling menyakitkan: infrastruktur energi Iran.
Dalam wawancara dengan New York Post, Trump mengatakan bahwa akan segera diketahui secara jelas apakah ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bersedia untuk berdialog dengan AS.
"Kita akan mengetahuinya. Saya akan memberitahu Anda sekitar seminggu lagi," ucap Trump secara eksklusif kepada New York Post pada Senin (30/3) waktu setempat.
Ghalibaf merilis pernyataan yang berisi peringatan terhadap AS, dengan menegaskan bahwa menyerang infrastruktur Iran akan menjadi "kesalahan besar".
"Musuh mempromosikan keinginan mereka sebagai berita, sambil mengancam bangsa kita pada saat yang sama. Kesalahan besar. Jika mereka menyerang satu, mereka akan mendapatkan beberapa serangan balasan. Insya Allah, rakyat Iran, di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi, akan membuat musuh menyesali agresi tersebut dan merebut kembali hak-hak mereka," tegasnya.
Keputusan Trump untuk memberikan waktu seminggu kepada Ghalibaf diduga terkait tenggat waktu 6 April, yang ditetapkan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai dengan AS. Para pemimpin Iran belum secara terbuka mengonfirmasi bahwa mereka berpartisipasi dalam perundingan dengan AS.
Tonton juga video "Trump Ancam Hancurkan Seluruh Sumur Minyak Iran Jika Tak Buka Selat Hormuz"










































