Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk musuh, selama perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel terus berkecamuk. Thailand mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengizinkan kapal tanker minyak dari negara itu melintasi Selat Hormuz secara aman.
IRGC memperingatkan bahwa setiap kapal yang transit melalui jalur perairan strategis dan penting itu akan menghadapi "tindakan keras". Diumumkan juga oleh IRGC bahwa pasukannya telah mengusir setidaknya tiga kapal yang berupaya melintasi titik transit di jalur perairan penting tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul mengumumkan bahwa "kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz". Dia menyebut hal ini akan mengurangi kekhawatiran tentang impor bahan bakar.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (28/3/2026):
- Iran Ingatkan Kapal yang Coba Lintasi Selat Hormuz Akan Ditindak Keras
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk musuh, selama perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel terus berkecamuk. IRGC memperingatkan bahwa setiap kapal yang nekat transit melalui jalur perairan strategis dan penting itu akan menghadapi "tindakan keras".
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (28/3/2026), IRGC mengatakan bahwa Selat Hormuz "ditutup" untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan-pelabuhan musuh.
Diumumkan oleh IRGC bahwa pasukannya telah mengusir setidaknya tiga kapal yang berupaya melintasi titik transit di jalur perairan penting tersebut.
- Mengapa Pakistan Muncul Jadi Mediator Antara AS-Iran?
Saat meningkatnya kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang dilancarkan sejak akhir Februari, Pakistan muncul sebagai mediator yang tidak terduga. Islamabad menawarkan bantuan untuk membawa Washington dan Teheran ke meja perundingan.
Pakistan, seperti dilansir Associated Press dan abc.net.au, Sabtu (28/3/2026), tergolong jarang diminta untuk bertindak sebagai perantara dalam diplomasi berisiko tinggi. Negosiasi-negosiasi sebelumnya antara AS dan Iran difasilitasi negara-negara Timur Tengah, seperti Qatar dan Oman.
Namun karena negara-negara itu berada di bawah serangan Iran selama perang, maka Islamabad mengambil alih peran tersebut. Ada sejumlah alasan yang mendasarinya, baik karena hubungan baik dengan AS dan Iran, maupun karena Pakistan memiliki banyak kepentingan dalam penyelesaian perang.
(nvc/nvc)