Utusan Trump Sebut Pertemuan dengan Iran Diharapkan Pekan Ini

Utusan Trump Sebut Pertemuan dengan Iran Diharapkan Pekan Ini

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 28 Mar 2026 09:44 WIB
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff (dok. Reuters)
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff (dok. Reuters)
Washington DC -

Utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan bahwa pertemuan dengan Iran diharapkan berlangsung "pekan ini". Witkoff menyebut Trump menginginkan "kesepakatan damai" di tengah serangan terhadap Iran yang terus berlanjut.

Pernyataan Witkoff ini, seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters, Sabtu (28/3/2026), disampaikan setelah laporan media sebelumnya menyebut Washington dan Teheran akan melakukan pertemuan setelah menjalin kontak secara tidak langsung selama beberapa pekan terakhir, selama perang terus berkecamuk.

"Ada beberapa orang di Iran yang menyangkal adanya negosiasi, tetapi saya pikir semua orang di ruangan ini mengetahui bahwa kita sedang bernegosiasi. Itu jelas," kata Witkoff saat berbicara dalam KTT Future Investment Initiative (FII), konferensi bisnis Arab Saudi yang digelar di Miami, Florida, AS, pada Jumat (27/3).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia memperkirakan bahwa pertemuan AS dan Iran akan digelar pekan ini. Witkoff juga menyinggung soal "beberapa kapal" yang diklaimnya telah dapat melintasi Selat Hormuz, yang disebutnya sebagai "pertanda yang sangat, sangat baik".

"Kami memiliki rencana 15 poin yang telah diajukan kepada Iran sejak beberapa waktu lalu. Kami berharap Iran akan merespons, dan itu bisa menyelesaikan semuanya," ucapnya.

"Kami memperkirakan akan ada pertemuan pekan ini. Kami tentu berharap demikian," kata Witkoff, yang merupakan orang kepercayaan Trump ini.

"Definisi saya tentang negosiasi yang sebenarnya adalah di sini, dan kami tidak akan pergi sampai kami selesai, dan telah telah menawarkannya," imbuhnya.

Lebih lanjut, Witkoff mengatakan bahwa Trump menginginkan kesepakatan perdamaian.

"Saya pikir Presiden menginginkan kesepakatan damai. Tetapi dia juga percaya pada perdamaian melalui kekuatan. Tanpa tekanan, Anda tidak akan pernah bisa mengajak siapa pun ke meja perundingan," sebut Witkoff dalam pernyataannya.

Kawasan Timur Tengah semakin memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari. Total sedikitnya 1.340 orang tewas akibat rentetan serangan AS-Israel di berbagai wilayah Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Serangan pembalasan Iran itu memicu kerusakan dan korban luka di Israel maupun negara-negara Teluk. Sedikitnya 13 tentara AS di negara-negara Teluk tewas akibat rentetan serangan pembalasan Iran. Sebanyak 290 tentara AS lainnya luka-luka, dengan 10 personel di antaranya mengalami cedera serius.

Tidak hanya itu, Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global, juga terdampak oleh perang berkelanjutan tersebut. Aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu.

Hal tersebut memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Simak juga Video 'Trump Terang-terangan Ingin Minyak Iran':

Halaman 2 dari 2
(nvc/imk)


Berita Terkait