Infrastruktur air dan energi Iran yang sangat penting telah mengalami kerusakan parah akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. AS dan Israel menargetkan fasilitas transmisi, pengolahan air, dan jaringan pasokan air Iran.
Dilansir AFP, Minggu (22/3/2026), Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, menewaskan pemimpin tertinggi republik Islam tersebut dan memicu perang yang sejak itu menyebar ke seluruh Timur Tengah.
"Infrastruktur air dan listrik vital negara itu telah mengalami kerusakan berat menyusul serangan teroris dan siber oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis," kata Menteri Energi Abbas Aliabadi, menurut kantor berita ISNA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Serangan tersebut menargetkan puluhan fasilitas transmisi dan pengolahan air dan menghancurkan sebagian jaringan pasokan air yang penting," katanya, menambahkan bahwa upaya sedang dilakukan untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
Sebelumnya pada Minggu (22/3), Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika gagal membuka kembali Selat Hormuz yang strategis dalam waktu 48 jam.
Lalu lintas melalui selat vital tersebut-yang biasanya dilalui oleh 20% minyak mentah dan gas alam cair dunia-hampir terhenti sejak dimulainya perang.
Pasukan Iran telah menyerang beberapa kapal, dengan mengatakan bahwa mereka gagal mengindahkan "peringatan" untuk tidak melintasi jalur air tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran telah mengizinkan beberapa kapal dari negara-negara yang dianggapnya bersahabat untuk lewat, sementara memperingatkan akan memblokir kapal dari negara-negara yang menurutnya telah bergabung dalam "agresi" terhadapnya.
Sebagai tanggapan terhadap Trump, Iran mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan pabrik desalinasi di seluruh wilayah tersebut.











































