Warga Gaza, Palestina, menunaikan salat Idulfitri 1447 Hijriah yang jatuh pada 20 Maret 2026 dikelilingi puing bangunan yang dihancurkan oleh serangan Israel. Warga Gaza dengan khusyuk beribadah bersama keluarga mereka di tengah genosida Israel.
Dilansir Al Jazeera dan AFP, Jumat (20/9/2026), warga Palestina di Gaza merayakan Idul Fitri dikelilingi puing-puing. Keluarga berkumpul di ruang terbuka dan di luar masjid yang rusak untuk melaksanakan salat. Terlepas dari genosida dan pengungsian, para jemaah tetap mempertahankan tradisi Idulfitri.
Jemaah menunaikan salat IdulFitri di Lapangan Al-Saraya Gaza. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa serangan udara Israel menewaskan empat orang pada 19 Maret, sementara militer Israel mengatakan telah melenyapkan empat warga Gaza yang mengancam pasukannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumpahan darah ini adalah yang terbaru yang mengguncang wilayah Palestina yang porak-poranda akibat perang, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober.
Pejabat senior Hamas Palestina, Ismail Radwan, memimpin salat Id di Lapangan Al-Saraya Gaza. Anggota Brigade Ezzedine Al-Qassam Hamas Palestina dan Brigade Quds Jihad Islam ditempatkan di persimpangan jalan untuk menjaga salat Id.
Di sisi lain, sejumlah warga Palestina mengunjungi makam kerabatnya di Pemakaman Al-Saraya di Gaza saat umat Muslim merayakan Idulfitri. Menurut laporan setempat, serangan Israel telah menghancurkan lebih dari 1.100 dari sekitar 1.240 masjid di Gaza sejak akhir tahun 2023.
Sementara itu, otoritas Israel melarang salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Israel melarang dengan alasan pembatasan keamanan yang diberlakukan di tengah perang melawan Iran.
Dilansir Anadolu, Jumat (20/3), warga Palestina menyerukan kepada para jemaah untuk berkumpul di dekat Kota Tua untuk melaksanakan salat sedekat mungkin dengan Al-Aqsa untuk menandai berakhirnya bulan puasa Ramadan.
Polisi Israel sebelumnya telah menggunakan pentungan, granat suara, dan gas air mata terhadap warga Palestina yang salat di luar tembok Kota Tua sebagai protes terhadap pembatasan di Al-Aqsa selama Ramadan.
Yerusalem Timur yang diduduki memasuki masa perayaan dengan suasana muram. Kota Tua, yang biasanya dipenuhi warga Palestina beberapa hari sebelum Idulfitri, tampak sunyi senyap, menyerupai kota hantu.
Israel membatasi akses, dengan alasan larangan berkumpul, sementara para pemilik toko Palestina dilarang membuka toko mereka, hanya apotek dan toko makanan pokok yang diizinkan beroperasi.
Para pedagang Palestina, yang menolak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan Israel, mengatakan bahwa pembatasan tersebut telah membuat mereka mengalami kesulitan ekonomi yang parah.











































