Sri Lanka telah menetapkan setiap hari Rabu sebagai hari libur bagi lembaga-lembaga publik untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM). Penyebabnya, negara kepulauan itu bergulat dengan kemungkinan kekurangan bahan bakar dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
"Kita harus bersiap untuk yang terburuk, tetapi berharap untuk yang terbaik," kata Presiden Anura Kumara Dissanayake dalam pertemuan darurat dengan para pejabat senior dilansir BBC, Rabu (18/3/2026).
Kebijakan ini adalah langkah terbaru dalam serangkaian penghematan yang dilakukan oleh sejumlah negara di Asia sejak perang tersebut menutup Selat Hormuz, yang dulunya mengangkut jutaan barel minyak dari Teluk ke wilayah tersebut.
Hampir 90% dari seluruh minyak dan gas yang mengalir melalui selat tahun lalu ditujukan untuk Asia, yang merupakan wilayah pengimpor minyak terbesar di dunia. Di tempat lain di Asia, pihak berwenang telah menggunakan berbagai langkah penghematan.
Di Thailand, misalnya, pemerintah mendesak masyarakat untuk mengganti jas dengan kaos lengan pendek untuk mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan, sementara di Myanmar, kendaraan pribadi hanya diperbolehkan beroperasi pada hari-hari bergantian tergantung pada nomor plat kendaraannya.
Bangladesh telah memajukan liburan Ramadan di universitas dan menerapkan pemadaman listrik terencana di seluruh negeri untuk menghemat energi.
Sementara di Filipina, beberapa kantor pemerintah telah mewajibkan staf untuk bekerja dari rumah setidaknya satu hari dalam seminggu, sementara Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah melarang perjalanan yang tidak penting di sektor publik.
Marcos juga mengumumkan bantuan tunai kepada pengemudi becak, petani, dan nelayan untuk membantu mereka mengatasi kenaikan harga minyak, berkisar antara 3.000-5.000 peso.
(rfs/imk)