Filipina Deklarasi Darurat Energi Buntut Perang AS-Israel dan Iran

Filipina Deklarasi Darurat Energi Buntut Perang AS-Israel dan Iran

Matius Alfons Hutajulu - detikNews
Selasa, 24 Mar 2026 22:05 WIB
Philippines President Ferdinand Marcos Jr attends the closing ceremony of the 44th and 45th ASEAN Summits and Related Summits and Handing Over of the ASEAN Chairmanship to Malaysia, at the National Convention Centre, in Vientiane, Laos, October 11, 2
Foto: Ferdinand Marcos Junior (dok. Reuters)
Jakarta -

Pemerintah Filipina kini mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional dengan alasan bahaya yang mengancam pasokan bahan bakar negara akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan telah menandatangani perintah eksekutif untuk menjaga keamanan energi di tengah gangguan parah pada rantai pasokan global.

Dilansir BBC, Selasa (24/3/2026), perang AS-Israel dengan Iran yang berakibat pada penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pelayaran utama, telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global. Konflik tersebut menyebabkan kenaikan harga dan kekurangan pasokan. Padahal, Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar dan sangat rentan terhadap gangguan produksi dan pengiriman.

"Keadaan darurat energi nasional dengan ini dideklarasikan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, dan bahaya yang mengancam ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara," kata Marcos dalam perintah eksekutif yang dibagikan kepada media pada hari Selasa.

Marcos mengatakan langkah ini akan memungkinkan pemerintah untuk mengambil "langkah-langkah terkoordinasi" untuk mengatasi gangguan dalam perekonomian negara. Ia menambahkan bahwa sebuah komite telah dibentuk untuk memastikan pergerakan, pasokan, distribusi, dan ketersediaan bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan barang-barang penting lainnya berjalan tertib.

Deklarasi tersebut akan tetap berlaku selama satu tahun kecuali diperpanjang atau dicabut oleh presiden.

Hal ini menyusul seruan dari beberapa senator yang mendesak Marcos untuk mengakui kesulitan "tingkat darurat" yang dihadapi keluarga Filipina akibat melonjaknya harga minyak. Pada hari Selasa, lonjakan harga lainnya membuat harga bensin dan solar naik lebih dari dua kali lipat dari level sebelum perang pada bulan Februari.

Filipina mengimpor sekitar 98% minyak mentahnya dari Teluk, dan konflik tersebut telah berdampak luas di negara itu, mulai dari transportasi hingga harga beras.

Sejak permusuhan pecah, pemerintah telah memberikan subsidi kepada pengemudi transportasi, mengurangi layanan feri, dan menerapkan minggu kerja empat hari untuk pegawai negeri sipil untuk menghemat bahan bakar.

Sebelumnya pada hari Selasa, Menteri Energi Sharon Garin mengatakan negara itu memiliki persediaan bahan bakar sekitar 45 hari lagi.

Garin mengatakan kepada wartawan bahwa negara itu akan "untuk sementara" lebih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya sebagai respons terhadap melonjaknya biaya gas alam cair (LNG).

Asia sangat rentan terhadap blokade Selat Hormuz. Tahun lalu, hampir 90% dari seluruh minyak dan gas yang melewati jalur air tersebut menuju ke wilayah ini.

Tonton juga video "Trump Mau Kendalikan Hormuz Bareng Next Ayatollah, Tapi Iran Bilang..."

Halaman 2 dari 2
(maa/imk)


Berita Terkait