Putin Tawarkan Jadi Mediator Negara-negara Teluk dengan Iran

Putin Tawarkan Jadi Mediator Negara-negara Teluk dengan Iran

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 04 Mar 2026 17:39 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: Reuters)
Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: Reuters)
Jakarta -

Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan untuk menggunakan hubungan Moskow dengan Iran guna membantu memulihkan ketenangan di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel.

Dilansir kantor berita Reuters, Rabu (4/3/2026), berbicara melalui telepon dengan para pemimpin tiga negara Teluk Arab, Putin menawarkan diri untuk menjadi mediator mereka dengan Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam serangkaian panggilan telepon dengan para pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Qatar pada Senin (2/3) waktu setempat, Putin mengkritik serangan AS-Israel terhadap Iran.

ADVERTISEMENT

Negara-negara Arab di Teluk tersebut, semuanya sekutu dekat AS, telah menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara mereka pada hari Sabtu (28/2) lalu.

Menurut pernyataan Kremlin tentang panggilan telepon Putin dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan, pemimpin Rusia itu menawarkan untuk bertindak sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan UEA tentang serangan tersebut kepada Teheran.

Selama panggilan telepon tersebut, "kedua belah pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembali ke proses politik dan diplomatik," tambah Kremlin.

Dalam percakapan telepon Putin dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, Kremlin mengatakan kedua pemimpin tersebut telah berbicara tentang kekhawatiran mereka mengenai meluasnya konflik dan risiko keterlibatan negara ketiga. Sementara kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, Putin mengatakan bahwa Rusia siap melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menstabilkan situasi di kawasan tersebut.

Sebelumnya pada hari Minggu (1/3), Putin mengutuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh AS dan Israel telah menjerumuskan Timur Tengah "ke dalam jurang eskalasi yang tak terkendali."

Namun, Moskow juga ingin tidak ribut dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump karena Washington menjadi penengah perundingan perdamaian dengan Ukraina. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow ingin perundingan tersebut dilanjutkan.

"Kami memiliki kepentingan sendiri yang harus kami lindungi, dan merupakan kepentingan kami untuk melanjutkan negosiasi ini (mengenai Ukraina)," kata Peskov.

Simak Video 'Iran: Yang Coba Alihkan Perhatian-Menyesatkan, Kita Tolak!':

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads