Surati PBB, Iran Ancam Konsekuensi Luas Atas Kematian Khamenei

Surati PBB, Iran Ancam Konsekuensi Luas Atas Kematian Khamenei

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 02 Mar 2026 11:45 WIB
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/WANA (West Asia News Agency)/HO/REUTERS)
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/WANA (West Asia News Agency)/HO/REUTERS)
Jakarta -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengirimkan surat kepada Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para anggota Dewan Keamanan PBB, menyusul wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat dan Israel. Dia mengancam "konsekuensi yang mendalam dan luas" bagi mereka yang bertanggung jawab.

Dalam surat yang dikirim pada hari Senin (2/3), Menlu Iran itu menekankan kedudukan Khamenei dan skala serangan yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran tersebut.

"Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, bukan hanya otoritas resmi tertinggi negara, tetapi juga tokoh agama yang dihormati oleh puluhan juta umat Muslim di seluruh kawasan dan dunia," tulis Araghchi dalam surat tersebut, dilansir media Iran, Press TV, Senin (2/3/2026).

"Serangan seperti itu akan memiliki konsekuensi yang mendalam dan luas, yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab para pelakunya," tegasnya.

Araghchi menggarisbawahi sifat "mengerikan dan kriminal" dari kekejaman yang "dilakukan terhadap bangsa besar Iran."

Ia menekankan bahwa Israel dan AS telah menargetkan Republik Islam itu dalam "serangkaian tindakan agresif, terencana, dan sama sekali tidak dapat dibenarkan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial" bangsa tersebut.

Menurut pejabat Iran tersebut, agresi yang ditujukan terhadap Pemimpin Tertinggi menunjukkan bahwa sekutu "dengan sengaja menargetkan otoritas resmi tertinggi dari Negara Anggota PBB yang independen."

Menyebut serangan itu sebagai "tindakan teroris pengecut," Araghchi mengatakan bahwa serangan itu dilakukan "dengan pelanggaran terang-terangan terhadap Pasal 2(4) Piagam PBB dan merupakan serangan langsung terhadap prinsip-prinsip paling mendasar dari hukum internasional, termasuk larangan penggunaan kekerasan, prinsip kesetaraan kedaulatan negara, dan kekebalan kepala negara."

Ia berpendapat bahwa tindakan tersebut "menetapkan preseden berbahaya yang menyerang norma-norma inti yang mengatur kedaulatan negara dan perilaku beradab antar bangsa."

Kepala negara, tegas Araghchi, "tidak dapat diganggu gugat, harus dihormati, dan kebal, sebuah prinsip yang penting untuk pelaksanaan tugas resmi mereka secara independen."

Oleh karena itu, serangan yang disengaja terhadap pejabat tertinggi Iran merupakan pelanggaran berat dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap norma-norma paling mendasar yang mengatur hubungan antar negara," tegas Menlu Iran tersebut.

Simak juga Video: Konflik AS - Israel - Iran Picu Krisis Energi hingga Perang Dunia

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait