Musim Dingin di Tahun Kelima Perang Ukraina

Musim Dingin di Tahun Kelima Perang Ukraina

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 26 Feb 2026 06:43 WIB
Lewati Musim Dingin, Warga Ukraina Tabah Memasuki Tahun Kelima Perang
Foto: Lewati Musim Dingin, Warga Ukraina Tabah Memasuki Tahun Kelima Perang (DW (News))
Jakarta -

Warga Ukraina tabah memasuki tahun kelima perang antara Ukraina dengan Rusia di musim dingin. Bahkan, serangan-serangan itu terjadi saat suhu turun hingga minus 25 derajat Celsius.

Dirangkum detikcom, Rabu (25/2/2026), Lembaga Survei Sosiologi Internasional Kyiv atau Kyiv International Institute of Sociology (KIIS) menerbitkan jajak pendapat pada awal Februari yang meneliti sikap warga Ukraina terhadap perang.

Survei tersebut dilakukan pada akhir Januari, ketika serangan besar-besaran Rusia terhadap fasilitas energi menyebabkan pemadaman listrik serta gangguan pada sistem pemanas dan air di seluruh negeri, khususnya di Kyiv.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan-serangan itu terjadi saat suhu turun hingga minus 25 derajat Celsius.

Jajak pendapat KIIS menemukan bahwa 88% responden menilai serangan Rusia terhadap sistem energi Ukraina bertujuan memaksa negara itu menyerah. Namun, 65% dari mereka yang diwawancarai mengatakan siap bertahan selama diperlukan. Beberapa bulan sebelumnya, pada September dan Desember 2025, sekitar 62% menyatakan hal yang sama.

"Januari ini tidak membuat saya lebih bertekad atau lebih marah, karena sejak 2022 saya sudah sangat bertekad dan marah," ujar Julia, seorang warga Kyiv, kepada DW. "Ini hanyalah tahap lain dari pertempuran yang sangat sulit yang pada akhirnya akan kami menangkan dengan satu cara atau cara lain."

Suami Julia, yang memiliki seorang putri dengannya telah ditugaskan di medan perang sejak 2024. "Kemarahan saya membantu saya tetap teguh, tetapi juga kesadaran bahwa tidak ada pilihan lain. Apa pun selain berdiri teguh akan jauh lebih buruk," ujar Julia.

Keadilan dan Kelangsungan Hidup

Salah satu faktor terpenting yang memperkuat ketahanan masyarakat adalah kesadaran bahwa perang Rusia melawan Ukraina bersifat eksistensial, papar Kepala KIIS, Anton Hruschezkyj. Bagi warga Ukraina, jelasnya, perang ini bukan hanya tentang keadilan, tetapi tentang kelangsungan hidup semata. "Ketangguhan warga Ukraina masih tinggi. Meskipun mereka lelah dan terbuka untuk membuat konsesi yang sulit, mereka tidak siap melampaui 'garis merah' tertentu," ungkapnya.

Upaya Rusia untuk membuat kehidupan sehari-hari warga Ukraina menjadi tak tertahankan tidak mengubah pola pikir ini, katanya. Warga Ukraina, tambahnya, mulai menyebut penderitaan ini sebagai "Cholodomor," atau "pembunuhan melalui suhu dingin." Istilah ini berasal dari "holodomor," yang berarti "kematian karena kelaparan," yaitu nama yang diberikan pada bencana kelaparan buatan manusia di Ukraina Soviet di bawah rezim Josef Stalin pada 1932 dan 1933.

Warga Ukraina kelelahan akibat stres perang yang berkepanjangan, kata psikolog Kateryna Kudrschynska. "Hal ini berdampak pada tubuh, sistem saraf, dan kondisi psikis." Ia menilai ketahanan Ukraina juga berakar pada penolakan untuk kehilangan lebih banyak lagi setelah begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan.

Warga Ukraina Ingin Membangun Kembali Negaranya


"Kami ingin bertahan, karena jika menyerah, keadaan akan jauh lebih buruk di bawah kepemimpinan Rusia," ucap Natalia, seorang mahasiswa yang tinggal di Kyiv, kepada DW. Ia datang ke Lapangan Kemerdekaan di ibu kota untuk meletakkan bendera kecil di sebuah tugu peringatan darurat bagi para prajurit yang gugur, untuk mengenang ayahnya. Ayahnya baru-baru ini meninggal dunia di wilayah Donetsk, Ukraina.

Mahasiswa tersebut, yang sempat mengungsi ke luar negeri pada awal perang sebelum akhirnya kembali, terkadang merasa sulit menanggung kehilangan ayahnya, kondisi hidup yang ekstrem, dan situasi negara secara keseluruhan. "Saya memperoleh kekuatan dari kenyataan bahwa saya hidup demi ayah saya, yang ingin hidup dan membangun masa depan bersama keluarganya," ujarnya. "Saya tidak bisa menyerah karena dia. Saya yakin Ukraina memiliki masa depan. Ukraina adalah rumah saya, saya tidak ingin pergi. Saya ingin membangun kembali negara saya."

Olha adalah warga Kyiv lainnya yang terus bertahan. "Saya tidak bisa menggandeng tangan anak saya dan pergi begitu saja," kata ibu dari seorang anak berusia dua tahun itu. "Itu akan menjadi pengkhianatan terhadap suami saya, yang sedang berperang." Suami Olha menjadi sukarelawan untuk membela Ukraina pada awal invasi Rusia dan kini bertugas di wilayah Pokrovsk. Ia sangat jarang pulang. Olha membesarkan putra mereka sambil bekerja paruh waktu.

Ia mengatakan bahwa rekan-rekan senegaranya melihat Rusia menghadapi masalah ekonomi dan merasa terhibur oleh fakta bahwa Rusia belum berhasil meraih kemenangan militer yang signifikan dalam empat tahun. Karena itu, ia percaya warga Ukraina tetap optimistis bahwa semuanya akan berakhir dengan baik.

Prajurit yang Lelah Namun Tetap Bertekad

Serhij* menjadi sukarelawan untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Ukraina sebagai tenaga medis empat tahun lalu. Ia mengatakan para pejuang semakin kurang termotivasi dan kurang tangguh karena tidak ada masa penugasan yang tetap, hampir tidak ada kesempatan untuk demobilisasi, serta dukungan finansial yang tidak memadai bagi prajurit yang tidak ditempatkan di garis depan.

Kyrylo bertugas sebagai spesialis telekomunikasi di angkatan darat Ukraina. Ia mengatakan kepada DW bahwa rekan-rekannya telah terbiasa dengan kurangnya waktu istirahat: "Kami sudah begitu terbiasa sehingga Anda bahkan tidak ingat lagi bagaimana rasanya sebelumnya. Jika dulu Anda punya rencana masa depan, sekarang sudah tidak ada lagi. Ini bukan pesimisme. Lebih seperti: 'Apa pun yang terjadi, terjadilah.' Ini semacam kepasrahan, bukan keputusasaan."

Kyrylo mengakui bahwa suasana di militer tegang akibat skandal korupsi pemerintah dan kasus penyalahgunaan dana industri pertahanan. Pengungkapan semacam itu membuatnya dan rekan-rekannya merasa dikhianati.

"Secara pribadi, ketika motivasi saya menurun, yang tersisa hanyalah disiplin dan kesadaran bahwa Ukraina, bangsa ini, identitas ini mungkin tidak akan lagi ada jika kami tidak bertahan dan berjuang," ungkap Mos, yang bertugas di resimen drone Ukraina. Ia juga menghadapi kelelahan dan perasaan apatis. Namun Mos mengatakan bahwa menyadari tidak ada alternatif selain melawan membantunya mendapatkan kembali motivasi.

Nasib Apa yang Menanti Ukraina di Masa Depan?


Hrushetsky percaya bahwa kemampuan warga Ukraina untuk terus berjuang saat perang memasuki tahun kelima perang juga bergantung pada keyakinan bahwa mitra-mitra Eropa terus memberikan dukungan.

"Penderitaan saat ini dipandang sebagai investasi untuk masa depan," pungkasnya. "Data terbaru kami menunjukkan bahwa lebih dari 60% warga Ukraina tetap optimistis dan percaya bahwa dalam sepuluh tahun ke depan Ukraina akan menjadi anggota Uni Eropa yang makmur."

Nama tiga prajurit yang dikutip dalam laporan ini telah diubah untuk melindungi identitas mereka.

Artikel ini diadaptasi dari artikel berbahasa Ukraina

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

Simak juga Video 'Uni Eropa Beri Pinjaman 90 Miliar Euro ke Ukraina':

Halaman 2 dari 3
(whn/maa)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads