Serangan udara yang dilancarkan junta militer Myanmar menghantam sebuah pasar di wilayah Rakhine. Sedikitnya 17 orang tewas akibat gempuran tersebut.
Myanmar telah dilanda perang sipil sejak junta militer merebut kekuasaan dari pemerintahan sipil dalam kudeta tahun 2021 lalu. Dalam perang sipil yang berkelanjutan itu, pasukan junta Myanmar berhadapan dengan kelompok bersenjata dari berbagai etnis minoritas dan gerilyawan pro-demokrasi di negara tersebut.
Kelompok oposisi bersenjata Myanmar, Tentara Arakan, seperti dilansir AFP, Rabu (25/2/2026), melaporkan bahwa serangan udara junta militer menghantam sebuah pasar di desa Yoe Ngu, yang ada di Rakhine, negara bagian paling barat di negara tersebut, pada Selasa (24/2) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan oleh Tentara Arakan bahwa sedikitnya 17 orang yang merupakan "warga sipil tak bersalah" tewas dalam serangan tersebut.
Laporan terpisah dari kelompok sukarelawan sipil Asosiasi Pemuda Ponnagyun (PYA) menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 18 orang.
PYA menyebut serangan udara junta militer Myanmar itu memicu kebakaran dan menghancurkan bangunan di wilayah Rakhine.
"Situasinya sangat buruk, empat atau lima bangunan terbakar dan banyak bangunan hancur," tutur ketua PYA, Pyae Phyo Naing, yang tiba di lokasi kejadian setelah serangan terjadi.
"Beberapa orang menangis sementara banyak mayat bergelimpangan di area tersebut," ucapnya.
"Sejumlah orang berlari menjauh dari lokasi kejadian karena masih ada rumah-rumah yang terbakar ketika kami tiba," sebut Naing dalam keterangannya.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari juru bicara junta militer Myanmar terkait laporan tersebut.











































