Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengevakuasi puluhan personel Kedutaan Besarnya di Lebanon pada Senin (23/2) waktu setempat. Evakuasi ini diperintahkan setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran, yang memiliki hubungan dekat dengan kelompok Syiah, Hizbullah, di Lebanon.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS, yang tidak disebut namanya, seperti dilansir Anadolu Agency dan AFP, Selasa (24/2/2026), mengonfirmasi bahwa para personel diplomatik AS yang berstatus non-darurat dan para anggota keluarga mereka yang memenuhi syarat telah dievakuasi dari misi diplomatik di Beirut.
Dikatakan pejabat AS itu bahwa keputusan untuk mengurangi jumlah personel kedutaan ini bersifat "sementara".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini merupakan langkah sementara yang dimaksudkan untuk memastikan keselamatan personel kami, sembari mempertahankan kemampuan kami untuk beroperasi dan membantu warga negara AS," kata pejabat senior Departemen Luar Negeri AS tersebut.
Menurut sumber keamanan Lebanon yang berbicara kepada AFP, sekitar 40 personel Kedutaan Besar AS telah terbang meninggalkan Lebanon melalui Bandara Internasional Rafic Hariri di Beirut pada Senin (23/2) waktu setempat.
Dijelaskan pejabat senior AS itu bahwa perintah evakuasi tersebut berlaku untuk para staf non-darurat dan anggota keluarga mereka, dengan Kedutaan Besar AS di Beirut akan tetap buka.
"Kami terus menilai situasi keamanan, dan berdasarkan peninjauan terbaru, kami memutuskan bahwa akan bijaksana untuk mengurangi jumlah personel kami menjadi hanya para personel penting," jelasnya.
"Kedutaan Besar tetap beroperasi dengan para staf inti," tegas pejabat senior AS tersebut.
Dalam pernyataan via media sosial X, Kedutaan Besar AS mengatakan bahwa para personelnya di Lebanon "dilarang melakukan perjalanan pribadi tanpa izin terlebih dahulu".
"Pembatasan perjalanan tambahan dapat diberlakukan pada personel AS di bawah tanggung jawab keamanan Kepala Misi, dengan sedikit atau tanpa pemberitahuan karena meningkatnya masalah atau ancaman keamanan," demikian pernyataan Kedutaan Besar AS untuk Lebanon.
Trump memerintahkan pengerahan aset militer AS secara besar-besaran di kawasan Timur Tengah beberapa waktu terakhir. Dia mengancam akan menyerang Iran jika negara itu tidak mencapai kesepakatan mengenai isu-isu utama, dimulai dengan program nuklirnya.
Ancaman itu dilontarkan saat perundingan nuklir antara Washington dan Teheran kembali digelar, dengan putaran terbaru dijadwalkan pada Kamis (26/2) mendatang di Jenewa, Swiss. Pemerintah Iran menantikan pembicaraan terbaru dengan AS dalam upaya diplomasi terakhir.
Tonton juga video "Israel Serang Lebanon Saat Warga Berbuka Puasa, Sedikitnya 10 Orang Tewas"











































