Otoritas Iran memecat seorang direktur televisi lokal setelah salah satu reporter televisi itu secara keliru menyerukan kematian pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, saat siaran langsung. Seruan "Matilah Khamenei" itu tampaknya terlontar akibat salah ucap reporter televisi tersebut.
Insiden ini, seperti dilansir AFP, Jumat (13/2/2026), terjadi selama siaran langsung peringatan 47 tahun Revolusi Islam di Provinsi Sistan-Baluchistan bagian tenggara pada Rabu (11/2) waktu setempat.
Saat siaran langsung, seorang reporter televisi provinsi Hamoun yang bernama Musab Rasoulizad menggambarkan jumlah peserta yang hadir dalam aksi massa itu dan mengulangi seruan-seruan yang terdengar dari kerumunan seperti "Allahu Akbar".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia kemudian menyerukan "Marg bar Khamenei" yang berarti "Matilah Khamenei", bukan seruan-seruan yang biasanya terdengar di aksi massa yang digelar pemerintah seperti "Matilah Amerika" atau "Matilah Israel".
Dampak dari salah ucap itu sangat fatal, dengan otoritas Iran memberhentikan direktur televisi Hamoun dan menjatuhkan sanksi disiplin terhadap orang-orang yang terlibat dalam siaran langsung tersebut.
"Direktur siaran saluran TV provinsi Hamoun telah dipecat menyusul kesalahan yang terjadi di jaringan provinsi," kata televisi pemerintah Iran dalam pengumuman pada Rabu (11/2) waktu setempat. Tidak disebutkan nama direktur siaran yang dipecat itu.
"Operator transmisi dan pengawas siaran dinonaktifkan. Para staf lainnya yang terbukti bersalah juga dirujuk ke komite disiplin," imbuh pengumuman tersebut.
Ditambahkan juga bahwa keputusan tersebut dibuat untuk "menjaga disiplin profesional dan melindungi reputasi media".
Dalam video yang dirilis setelah insiden itu, reporter televisi itu, Rasoulizad, tampak meminta maaf atas apa yang disebutnya sebagai "kesalahan ucapan dan kekeliruan yang disiarkan dan menjadi dalih bagi anti-revolusioner".
Aksi massa itu digelar beberapa minggu setelah unjuk rasa antipemerintah berlangsung secara besar-besaran di berbagai wilayah Iran, yang dipicu protes kenaikan biaya hidup namun meluas menjadi tuntutan lengsernya pemerintahan ulama di negara tersebut.
Unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan dan penindakan keras oleh aparat Teheran terhadap demonstran, dengan otoritas Iran mengakui lebih dari 3.000 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan. Pemerintah Iran mengaitkan kematian itu dengan "tindakan teroris" asing.
Data terpisah dari organisasi-organisasi internasional menyebutkan jumlah korban yang jauh lebih tinggi. Salah satunya dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS), yang melaporkan sedikitnya 7.002 orang, termasuk 6.506 demonstran, tewas selama unjuk rasa berlangsung.
Simak juga Video 'Iran-AS Beri Sinyal Positif soal Perundingan Nuklir, Bakal Rujuk?':











































