Israel menyebut rudal balistik Iran memberikan "ancaman eksistensial" bagi wilayahnya. Ditegaskan bahwa Israel tidak bisa hidup berdampingan dengan rudal-rudal Iran.
Pernyataan tersebut, seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Senin (2/2/2026), disampaikan oleh seorang pejabat tinggi militer Israel, yang tidak disebut identitasnya, saat berbicara kepada televisi pemerintah KAN.
"Israel tidak dapat hidup berdampingan dengan rudal-rudal balistik Iran," tegas pejabat tinggi militer Israel tersebut dalam komentarnya, yang disiarkan KAN pada Minggu (1/2) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan oleh pejabat militer Israel itu bahwa rudal balistik Iran merupakan "ancaman eksistensial, bukan sekadar tantangan militer terbatas".
Dia mengatakan bahwa Teheran telah memiliki hampir 2.000 rudal sebelum Tel Aviv melancarkan gelombang serangan udara pada Juni tahun lalu.
"Sejak saat itu, Iran mulai mereproduksi dan memperluas sistemnya dengan kecepatan yang signifikan," sebut pejabat militer Israel tersebut.
"Perkiraan menunjukkan kemampuan Iran untuk meluncurkan puluhan rudal secara bersamaan, yang semakin memperumit skenario konfrontasi di masa depan," ujarnya.
Lebih lanjut, pejabat tinggi militer Israel itu mengatakan bahwa serangan Israel atau Amerika Serikat (AS) terhadap Iran "tidak akan cukup jika hanya berfokus pada program nuklir, tanpa menargetkan infrastruktur peluncuran rudal, persediaan rudal, dan kemampuan manufaktur".
"Ancaman rudal Iran bukan lagi masalah sekunder, tetapi telah menjadi pusat perhitungan keamanan Israel," katanya.
Laporan televisi KAN pada Sabtu (31/1) waktu setempat, dengan mengutip seorang pejabat militer Israel yang tidak disebutkan namanya, menyebut bahwa serangan AS yang direncanakan terhadap Iran telah ditunda hingga pengerahan militer Washington selesai dilakukan.
Sejumlah sumber keamanan mengungkapkan bahwa diskusi dalam komando tinggi militer Israel menyimpulkan jika AS masih menyelesaikan pengerahan pasukannya dan membutuhkan waktu tambahan sebelum melancarkan serangan potensial apa pun terhadap Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat sejak maraknya unjuk rasa antipemerintah pada akhir Desember tahun lalu hingga awal tahun ini, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi negara tersebut. Unjuk rasa itu diwarnai penindakan keras oleh Teheran terhadap demonstran, yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.
Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi, dengan aksi militer menjadi salah satu opsi.
Beberapa waktu terakhir, saat kewaspadaan serangan AS terhadap Iran semakin meningkat, Trump berupaya menekan Teheran untuk duduk di meja perundingan membahas soal program nuklirnya.
Pemimpin Iran sendiri telah memperingatkan akan terjadinya konflik regional jika AS menyerangnya.
Tonton juga video "RI Kecam Serangan Israel ke Gaza: Pelanggaran Gencatan Senjata"










































