Seorang pejabat senior dari gerakan perlawanan Hizbullah di Lebanon, mengingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan agresi apa pun terhadap Iran. Dia menekankan bahwa aksi militer semacam itu dapat memicu konflik regional yang meluas.
Dilansir media Iran, Press TV, Kamis (29/1/2026), Nawaf al-Moussawi, Kepala bidang Perbatasan dan Sumber Daya di Hizbullah, mengatakan pada hari Rabu (28/1) malam waktu setempat, bahwa setiap potensi tindakan militer AS dapat berasal dari kesalahan perhitungan. Dia memperingatkan bahwa hal itu akan "memicu letusan gunung berapi di kawasan tersebut."
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (29/1/2026):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Uni Eropa Segera Masukkan Garda Revolusi Iran ke Daftar Teroris
Para menteri luar negeri Uni Eropa akan segera memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam "daftar teroris" blok tersebut setelah penindakan brutal terhadap demonstrasi massal. Demikian diumumkan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kalla.
"Jika Anda bertindak sebagai teroris, Anda juga harus diperlakukan sebagai teroris," kata diplomat senior tersebut kepada wartawan menjelang pertemuan para menteri Uni Eropa di Brussels, Belgia, dilansir kantor berita AFP, Kamis (29/1/2026).
Dia mengatakan langkah tersebut menempatkan IRGC pada level yang sama dengan kelompok-kelompok seperti al-Qaeda dan ISIS.
- China Eksekusi Mati 11 Orang Terkait Jaringan Scam Myanmar
Otoritas China mengeksekusi mati 11 orang yang terkait dengan geng kriminal Myanmar, termasuk "anggota-anggota kunci" yang terlibat dalam operasi penipuan (scam) online.
Jaringan penipuan telah berkembang pesat di wilayah perbatasan Myanmar, bagian dari industri ilegal bernilai miliaran dolar.
Pusat-pusat tersebut biasanya dikelola oleh warga asing -- termasuk banyak warga negara China -- dengan banyak yang mengatakan bahwa mereka diperdagangkan dan dipaksa untuk menipu orang secara online.
- Pesawat Bawa Anggota DPR Kolombia Jatuh, Tak Ada yang Selamat
Sebuah pesawat bermesin ganda yang membawa 15 orang, termasuk seorang anggota parlemen Kolombia, jatuh di daerah pegunungan dekat perbatasan Venezuela. Keseluruhan penumpang dan awak tewas dalam peristiwa itu, menurut pihak berwenang di Bogota, ibu kota Kolombia.
Pesawat tersebut lepas landas dari kota perbatasan Kolombia, Cucuta, dan kehilangan kontak dengan menara pengontrol lalu lintas udara sesaat sebelum dijadwalkan mendarat di Ocana sekitar Rabu (28/1) siang waktu setempat.
Dilansir kantor berita AFP, Kamis (29/1/2026), ada 13 penumpang dan dua awak pesawat di dalam penerbangan tersebut, yang dijadwalkan memakan waktu 23 menit. Penerbangan itu dioperasikan oleh maskapai penerbangan negara Kolombia, Satena.
- Hamas Siap Serahkan Pemerintahan Gaza ke Komite Palestina
Kelompok Hamas menyatakan bahwa mereka siap untuk menyerahkan pemerintahan Gaza kepada komite teknokrat Palestina. Hamas juga bersikeras agar perlintasan perbatasan Rafah dibuka kembali sepenuhnya dalam beberapa hari.
Dilansir kantor berita AFP, Kamis (29/1/2026), Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza (NCAG) yang beranggotakan 15 orang adalah tim teknokrat Palestina yang dibentuk sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat, yang mulai berlaku pada 10 Oktober lalu.
"Protokol telah disiapkan, berkas telah lengkap, dan komite telah dibentuk untuk mengawasi penyerahan, memastikan transfer pemerintahan yang lengkap di Jalur Gaza di semua sektor kepada komite teknokrat," kata juru bicara Hamas, Hazem Qassem, kepada AFP.
- Hizbullah Ingatkan AS Tak Serang Iran: Bisa Picu Letusan 'Gunung Berapi'
Seorang pejabat senior dari gerakan perlawanan Hizbullah di Lebanon, mengingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan agresi apa pun terhadap Iran. Dia menekankan bahwa aksi militer semacam itu dapat memicu konflik regional yang meluas.
Dilansir media Iran, Press TV, Kamis (29/1/2026), Nawaf al-Moussawi, Kepala bidang Perbatasan dan Sumber Daya di Hizbullah, mengatakan pada hari Rabu (28/1) malam waktu setempat, bahwa setiap potensi tindakan militer AS dapat berasal dari kesalahan perhitungan. Dia memperingatkan bahwa hal itu akan "memicu letusan gunung berapi di kawasan tersebut."
Lihat juga Video Terpopuler Sepekan: Kecelakaan ATR 42-500 hingga Banjir Jabodetabek











































