Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Iran ingin berdialog di tengah ketegangan kedua negara. Trump pun mengatakan bahwa Washington bersedia untuk melakukan dialog dengan Teheran.
Pernyataan terbaru Trump itu, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Jumat (23/1/2026), mengisyaratkan potensi pembukaan jalur diplomatik setelah meningkatnya ketegangan antara kedua negara akibat unjuk rasa antipemerintah yang diwarnai kerusuhan di Iran.
"Iran memang ingin berdialog, dan kami akan berdialog," kata Trump dalam seremoni penandatanganan Piagam Dewan Perdamaian di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump kemudian mengingatkan bahwa AS telah menyerang fasilitas pengayaan uranium Iran tahun lalu, untuk mencegah Teheran membuat senjata nuklir.
"Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi," tegasnya.
Pernyataan serupa disampaikan Trump pada Rabu (21/1), ketika Presiden AS ini mengatakan dirinya sebenarnya berharap tidak akan ada lagi aksi militer AS di Iran.
Namun Trump juga memperingatkan bahwa AS akan bertindak jika Teheran melanjutkan program nuklirnya.
"Mereka tidak boleh menjalankan program nuklir. Jika mereka melakukannya, itu akan terjadi lagi," tegas Trump dalam wawancara dengan CNBC di Davos, sembari menekankan serangan udara besar-besaran AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Dalam ketegangan dengan Iran yang dipicu penindakan keras oleh Teheran terhadap demonstran, Trump sempat mengatakan bahwa AS dapat melancarkan operasi militer jika Iran merespons unjuk rasa dengan kekerasan mematikan.
Namun Trump kemudian melunakkan retorikanya, dengan menyatakan bahwa Teheran telah berhenti membunuh para demonstran setelah peringatannya.
Tonton juga video "Berulang Kali Trump Salah Sebut Greenland Jadi Iceland saat Pidato"











































