Sebuah foto yang menunjukkan Duta Besar Amerika Serikat (AS) Tom Barrack duduk sendirian di posisi tengah, saat melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Turki Yasar Guler, yang duduk di posisi samping, memicu kehebohan. Foto itu dikritik terlebih karena pertemuan itu berlangsung di kantor Kementerian Pertahanan Turki di Ankara, ibu kota Turki.
Para pengkritik, seperti dilansir AFP, Selasa (20/1/2026), menuduh Barrack mengadopsi sikap bagaikan "gubernur kolonial" dan mempertanyakan susunan tempat duduk untuk Duta Besar AS, yang dianggap terlalu dominan.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (20/1/2026):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Kepala Kepolisian Iran Ultimatum Perusuh untuk Menyerah dalam 3 Hari!
Kepala Kepolisian Iran, Jenderal Ahmad-Reza Radan, memberikan ultimatum kepada para perusuh dalam unjuk rasa antipemerintah yang melanda negara tersebut beberapa waktu terakhir. Radan menyebut para perusuh akan mendapat hukuman lebih ringan, jika mereka menyerahkan diri dalam waktu tiga hari ke depan.
"Orang-orang muda yang tanpa sadar terlibat dalam kerusuhan dianggap sebagai individu yang tertipu, bukan tentara musuh," ujar Radan dalam pernyataan kepada televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Selasa (20/1/2026).
"Mereka akan diperlakukan dengan kelonggaran oleh sistem Republik Islam," ujarnya.
- Peringatan Parlemen Denmark: AS Invasi Greenland Berarti Perang!
Seorang anggota parlemen Denmark memberikan peringatan keras menanggapi ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Greenland. Ditegaskan anggota parlemen itu bahwa perang akan terjadi, jika Trump mengerahkan militer untuk merebut Greenland, wilayah otonomi Denmark.
"Kami tentu saja, akan membela Greenland. Jika terjadi invasi oleh pasukan Amerika, itu akan menjadi perang, dan kita akan saling berperang," kata anggota parlemen Denmark, Rasmus Jarlov, seperti dilansir CNN, Selasa (20/1/2026).
Trump bersikeras untuk mengambil alih Greenland, meskipun ditentang keras oleh sekutu-sekutunya di Eropa. Pemimpin Denmark dan Greenland telah sama-sama menegaskan bahwa pulau strategis di kawasan Arktik itu tidak untuk dijual dan tidak ingin menjadi bagian dari AS.
- Kanada Tegaskan Tak Akan Bayar untuk Masuk Dewan Perdamaian Gaza
Pemerintah Kanada tidak akan membayar untuk menjadi anggota "Dewan Perdamaian" yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hal ini diungkapkan oleh sebuah sumber pemerintah Kanada pada hari Senin (19/1) waktu setempat setelah Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney mengindikasikan bahwa ia akan menerima undangan untuk bergabung dengan badan tersebut.
"Kanada tidak akan membayar untuk kursi di dewan tersebut, dan hal itu juga belum diminta dari Kanada saat ini," kata sumber pemerintah tersebut, dilansir kantor berita AFP, Selasa (20/1/2026).
Dewan tersebut awalnya dirancang untuk mengawasi pembangunan kembali Gaza. Namun, menurut draf Piagam Dewan Perdamaian baru yang diusulkan oleh pemerintahan Trump, tampaknya tidak membatasi perannya hanya pada wilayah Palestina yang diduduki itu.
- Pesawat Militer Gabungan AS-Kanada Segera Tiba di Greenland, Tujuannya?
Pesawat Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) akan segera tiba di pangkalan militer Amerika Serikat di Greenland. NORAD menyebut kedatangan pesawat militer itu untuk aktivitas yang "telah direncanakan sejak lama."
Pengumuman dari NORAD pada hari Senin (19/1) waktu setempat tersebut, muncul di tengah meningkatnya ketegangan atas tuntutan Presiden Donald Trump untuk kendali AS atas Greenland yang merupakan wilayah otonom Denmark. NORAD merupakan sebuah organisasi militer gabungan AS-Kanada untuk pemantauan dan pertahanan dirgantara.
Dilansir kantor berita AFP, Selasa (20/1/2026), pernyataan NORAD tersebut tidak menjelaskan sifat kegiatan yang direncanakan di Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang menurut NORAD bertujuan untuk "kerja sama pertahanan."
- Heboh Dubes AS Duduk Bak Gubernur Kolonial Saat Bertemu Menhan Turki
Sebuah foto yang menunjukkan Duta Besar Amerika Serikat (AS) Tom Barrack duduk sendirian di posisi tengah, saat melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Turki Yasar Guler, yang duduk di posisi samping, memicu kehebohan. Foto itu dikritik terlebih karena pertemuan itu berlangsung di kantor Kementerian Pertahanan Turki di Ankara, ibu kota Turki.
Para pengkritik, seperti dilansir AFP, Selasa (20/1/2026), menuduh Barrack mengadopsi sikap bagaikan "gubernur kolonial" dan mempertanyakan susunan tempat duduk untuk Duta Besar AS, yang dianggap terlalu dominan.
Barrack, yang juga merupakan Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump untuk Suriah, menggelar pertemuan dengan Guler di Ankara pada Jumat (16/1) lalu.











































