Polisi Australia masih terus memburu pria bersenjata yang kabur usai menembak mati dua polisi. Polisi menyerukan pria itu untuk "meletakkan senjata apinya", saat mereka memburunya di kawasan hutan yang lebat. Operasi pengejaran ini telah memasuki hari keempat.
Tersangka berusia 56 tahun yang bersenjata lengkap tersebut, Dezi Freeman, melarikan diri ke semak-semak pada hari Selasa lalu, setelah melepaskan tembakan ke arah tim yang terdiri dari 10 petugas polisi di rumahnya di timur laut negara bagian Victoria.
Penembakan di kota Porepunkah tersebut menewaskan detektif Neal Thompson yang berusia 59 tahun dan polisi senior Vadim De Waart yang berusia 35 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang polisi lainnya terluka dan dijadwalkan menjalani operasi untuk kedua kalinya, tetapi diperkirakan akan pulih, kata polisi.
"Prioritas utama kepolisian Victoria adalah memburu pembunuh ini," kata kepala polisi negara bagian Victoria, Mike Bush, dalam konferensi pers, dilansir kantor berita AFP, Jumat (29/8/2025).
"Kami yakin dia bersenjata dan masih berbahaya," imbuhnya.
Lebih dari 450 petugas polisi dikerahkan untuk penyelidikan dan pencarian Freeman, yang diyakini memiliki keterampilan bertahan hidup di hutan dan pengetahuan yang baik tentang daerah tersebut.
"Jika orang itu mendengarkan, sudah saatnya untuk meletakkan senjata api dan menyerahkan diri, agar kita semua dapat menyelesaikan masalah ini dengan aman," kata Bush.
Media Australia melaporkan bahwa pria bersenjata itu adalah penganut teori konspirasi radikal dan bagian dari gerakan "warga negara berdaulat" yang percaya bahwa hukum tidak berlaku bagi mereka.
Penembakan mematikan terbilang jarang terjadi di Australia, dan kematian polisi bahkan lebih jarang lagi.
Larangan senjata otomatis dan semi-otomatis telah diberlakukan di Australia sejak penembakan massal tahun 1996 di Port Arthur, Tasmania, di mana seorang pria bersenjata menewaskan 35 orang.
Lihat Video '2 Polisi Australia Tewas Ditembak di Victoria, Pelaku Masih Diburu':