Serangan Artileri Rusia Hantam Kherson Ukraina, 3 Nyawa Melayang

ADVERTISEMENT

Serangan Artileri Rusia Hantam Kherson Ukraina, 3 Nyawa Melayang

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 02 Des 2022 17:44 WIB
A couple of women walk under a destroyed building after combats between ukrainian and russian armies in Arkhanhelske, a recent liberated village after the russian occupantion in Kherson province, Ukraine. (Photo by Celestino Arce/NurPhoto via Getty Images)
Ilustrasi -- Dampak gempuran Rusia di wilayah Kherson, Ukraina (dok. NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)
Kiev -

Serangan artileri yang dilancarkan pasukan Rusia dilaporkan menghantam wilayah Kherson, Ukraina bagian selatan, dalam 24 jam terakhir. Sedikitnya tiga orang tewas dan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran terbaru pasukan Moskow tersebut.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (2/12/2022), Gubernur wilayah Kherson Yaroslav Yanushevych menuturkan via Telegram bahwa pasukan Rusia membombardir kota Kherson dan beberapa area sekitarnya sebanyak 42 kali dalam periode 24 jam terakhir.

Kota Kherson yang berhasil dibebaskan dari pasukan Rusia sejak pertengahan November lalu, sebelumnya menjadi satu-satunya ibu kota wilayah Ukraina yang diduduki Moskow sejak awal invasi pada akhir Februari lalu.

Pasukan Rusia terus menggempur kota itu sejak menarik mundur pasukannya dari posisi bertahan di seberang Sungai Dnipro beberapa waktu lalu. Saat ini, sebut Yanushevych, kota Kherson tengah mengalami masalah dengan pasokan listriknya.

Dilaporkan bahwa gempuran pasukan Moskow pada Kamis (1/12) waktu setempat telah memutuskan aliran listrik di kota Kherson, hanya beberapa hari setelah berhasil dipulihkan otoritas setempat.

Beberapa minggu sebelum menarik pasukannya, Rusia menetapkan keseluruhan wilayah Kherson -- termasuk kota Kherson -- sebagai bagian dari wilayahnya bersama tiga wilayah Ukraina lainnya dalam aneksasi atau pencaplokan yang tidak diakui internasional.

Pencaplokan itu dilakukan Kremlin setelah secara tergesa-gesa menggelar 'referendum' untuk bergabung Rusia, yang dikecam Ukraina dan Barat sebagai penipuan.

Sebelumnya, seperti dilansir Associated Press, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menuduh Barat, terutama Amerika Serikat (AS) dan aliansi NATO, telah terlibat secara langsung dalam perang berkelanjutan di Ukraina, dengan mengirimkan pasokan persenjataan dan melatih tentara-tentara Kiev.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT