Demo di China Protes Aturan Lockdown COVID-19: Pemicu dan Dampaknya

ADVERTISEMENT

Demo di China Protes Aturan Lockdown COVID-19: Pemicu dan Dampaknya

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 27 Nov 2022 19:46 WIB
Demo di China Protes Aturan Lockdown COVID-19
Foto: BBC World
Jakarta -

Demo di China terjadi imbas aturan lockdown COVID-19 yang diberlakukan kembali oleh pemerintah setempat. Warga melakukan aksi protes terhadap pelebaran aturan lockdown akibat kasus COVID-19 telah mencapai rekor tertinggi selama berhari-hari.

Diketahui, aksi protes di China memuncak setelah adanya kebakaran di Xinjiang, pada Kamis (24/11) waktu setempat. Kebakaran yang menewaskan sejumlah korban itu memicu demo di Xinjiang pada Jumat (25/11) dan menyebar ke kota lain termasuk demo di Shanghai pada Minggu (27/11).

Sebagai informasi aksi demo di China termasuk kejadian yang cukup langka, yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Xi Jinping mengambil alih kekuasaan satu dekade lalu.

Berikut ini beberapa hal diketahui sejauh ini terkait berita demo di China yang dirangkum detikcom, Minggu (28/11/2022).

Demo di China Protes Aturan Lockdown COVID-19

Warga di wilayah Xinjiang, China melakukan aksi protes alias demo terhadap aturan pelebaran lockdown wilayah akibat melonjaknya kasus COVID-19 di China. Lockdown ini dilakukan karena tercatat adanya rekor baru infeksi nasional.

Demo di China terjadi pada Jumat (25/11) malam. Seperti dilansir Reuters, Minggu (27/11). Massa turun ke jalan di ibu kota Xinjiang, Urumqi pada Jumat malam. Massa meneriakkan "Akhiri penguncian!" dan mengacungkan tinju ke udara.

Banyak dari 4 juta penduduk di China terjebak lockdown terlama di negara itu. Disebutkan para penduduk dilarang meninggalkan rumah mereka selama 100 hari.

Demo di China Mencuat Usai Kebakaran di Xinjiang

Aksi demo di China protes terhadap kebijakan pembatasan COVID-19 menyebar ke banyak kota, termasuk di Shanghai. Aksi protes tersebut diketahui dipicu oleh kebakaran di salah satu gedung tinggi di Urumqi, Xinjiang pada Kamis (24/11).

Dilansir Reuters, Minggu (27/11), diketahui kebakaran di Xinjiang pada Kamis itu telah menewaskan 10 orang. Hal ini pun memicu kemarahan publik. Banyak pengguna internet menduga warga tidak dapat melarikan diri tepat waktu karena sebagian bangunan dikunci, yang akhirnya dibantah oleh pejabat kota.

Kebakaran tersebut telah memicu gelombang pembangkangan sipil, termasuk demo pada Jumat di Urumqi, Xinjiang, yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Xi Jinping berkuasa selama satu dekade lalu.

Sementara di Shanghai, massa berkumpul pada Sabtu (26/11) malam di jalan Wulumuqi untuk menyalakan lilin yang berubah menjadi aksi protes di Minggu (27/11) pagi. Polisi juga sempat mencoba membubarkan massa.

Imbas Demo, Lockdown di Sejumlah Wilayah Dibatalkan

Dalam konferensi pers yang digelar pada dini hari Sabtu (26/11), pejabat Urumqi menyangkal pemberlakukan lockdown COVID-19 telah menghambat pelarian dan penyelamatan.

Lockdown yang rencananya diberlakukan untuk kompleks "Berlin Aiyue" pun dibatalkan pada hari Jumat (25/11) usai aksi demo di China. Pada Sabtu (26/11) malam, setidaknya sepuluh kompleks lainnya mencabut aturan lockdown sebelum tanggal akhir yang diumumkan.

Untuk diketahui, pemerintah China berpegang pada kebijakan nol-COVID-nya di saat sebagian besar negara dunia mencoba hidup berdampingan dengan virus corona. Meski rendah menurut standar global, kasus China telah mencapai rekor tertinggi selama berhari-hari, dengan hampir 40.000 infeksi baru tercatat pada hari Sabtu (26/11).

(wia/idn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT