Kepala Penjara Filipina Dituduh Perintahkan Pembunuhan Penyiar Radio

ADVERTISEMENT

Kepala Penjara Filipina Dituduh Perintahkan Pembunuhan Penyiar Radio

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 07 Nov 2022 13:55 WIB
Ilustrasi: pembunuhan, mayat, bunuh diri, garis polisi, police line
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta -

Kepolisian Filipina menuduh kepala penjara negara itu memerintahkan pembunuhan seorang jurnalis radio terkemuka, yang kematiannya memicu kecaman internasional.

Penyiar radio Percival Mabasa (63) yang menggunakan nama "Percy Lapid" dalam programnya, ditembak mati di pinggiran kota Manila pada 3 Oktober saat dia berkendara ke studionya.

Dilansir kantor berita AFP, Senin (7/11/2022), polisi mengajukan tuduhan pembunuhan terhadap direktur jenderal Biro Pemasyarakatan Gerald Bantag, yang saat ini diskors dari tugas, dan wakil petugas keamanan Ricardo Zulueta.

Tersangka pembunuh Mabasa, Joel Escorial, menyerah kepada pihak berwenang bulan lalu karena takut akan keselamatannya setelah polisi menyiarkan wajahnya dari rekaman CCTV.

"Dia (Bantag) mungkin akan menjadi pejabat tertinggi negeri ini yang pernah didakwa dengan kasus seberat ini," kata Menteri Kehakiman Crispin Remulla.

Bantag dan Zulueta juga dituduh memerintahkan pembunuhan Cristito Villamor Palana, salah satu narapidana yang diduga memberikan perintah pembunuhan kepada Escorial.

Escorial telah mengidentifikasi Palana ke polisi.

Palana dicekik dengan kantong plastik oleh anggota gengnya sendiri, kata Javier.

Tuduhan pidana juga telah diajukan terhadap 10 narapidana.

Jaksa di Departemen Kehakiman akan memutuskan apakah ada cukup bukti untuk mengajukan tuntutan di pengadilan.

Mabasa adalah seorang kritikus vokal terhadap mantan presiden Rodrigo Duterte serta kebijakan-kebijakan Presiden Ferdinand Marcos dan para pembantunya.

Dia juga kritis terhadap "tanda merah" - menuduh seseorang sebagai simpatisan komunis - serta operasi perjudian online dan informasi yang salah seputar darurat militer.

Dia adalah jurnalis kedua yang tewas dibunuh di Filipina sejak Marcos menjabat presiden pada 30 Juni.

Sementara Filipina menduduki peringkat sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi jurnalis, pembunuhan seperti itu jarang terjadi di Manila, ibu kota Filipina.

Lihat juga video 'Pembunuh Kadus-Istri di Banyuasin Tewas Ditembak':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT