Dunia Sorot Penggunaan Gas Air Mata dalam Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Dunia Sorot Penggunaan Gas Air Mata dalam Tragedi Kanjuruhan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 13:48 WIB
Kegunaan Gas Air Mata Sebenarnya, Kini Jadi Sorotan di Tragedi Kanjuruhan
Momen gas air mata ditembakkan dalam tragedi yang menewaskan 125 orang di Stadion Kanjuruhan, Malang (AP/Yudha Prabowo)
Jakarta -

Tragedi maut yang menewaskan 125 orang di Stadion Kanjuruhan, Malang, menjadi sorotan media-media internasional. Terutama soal penggunaan gas air mata oleh personel kepolisian yang merespons situasi rusuh di dalam stadion pada 1 Oktober kemarin.

Seperti dirangkum detikcom, Senin (3/10/2022), salah satu media terkemuka Amerika Serikat (AS), The Washington Post, menyoroti soal penggunaan gas air mata dalam artikelnya berjudul 'Tear gas use by Indonesian police questioned in wake of mass fatality soccer tragedy'.

"Sejumlah saksi mata menuturkan kepada The Washington Post bahwa personel keamanan menembakkan gas air mata secara langsung dan tanpa pandang bulu ke arah kerumunan orang," tulis The Washington Post dalam artikelnya tersebut.

The Washington Post juga mengutip pernyataan Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Nico Afinta yang mengonfirmasi bahwa polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

"Pedoman yang ditetapkan oleh FIFA -- badan pengatur sepakbola internasional -- secara khusus mengecualikan penggunaan 'gas pengendali massal'," sebut artikel The Washington Post itu.

Media terkemuka AS lainnya, New York Times (NYT), dalam artikelnya berjudul 'Fans Fled as Police Fired Tear Gas, Causing Deadly Rush For Exits' juga mengulas soal penggunaan gas air mata dalam tragedi Stadion Kanjuruhan yang menjadi pemberitaan global tersebut.

"Penggemar sepakbola di Indonesia bergegas ke lapangan setelah sebuah pertandingan sepakbola profesional pada Sabtu (1/10) malam, mendorong polisi untuk menembakkan gas air mata ke kerumunan yang padat dan memicu desak-desakan yang menewaskan sedikitnya 125 orang, kata para pejabat setempat," tulis NYT.

"Organisasi-organisasi hak asasi manusia mengecam penggunaan gas air mata, yang dilarang oleh FIFA, badan pengatur sepakbola. Para saksi mata mengatakan bahwa gas beberapa kali ditembakkan tanpa pandang bulu ke tribun penonton, yang memaksa kerumunan yang kelebihan kapasitas untuk bergegas ke pintu keluar," imbuh NYT dalam artikelnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT