Berisiko Perang Nuklir, Paus Fransiskus Mohon Putin Setop Perang!

ADVERTISEMENT

Berisiko Perang Nuklir, Paus Fransiskus Mohon Putin Setop Perang!

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 10:37 WIB
Pope Francis recites the Angelus noon prayer from the window of his studio overlooking St.Peters Square, at the Vatican, Sunday, July 3, 2022. (AP Photo/Andrew Medichini)
Paus Fransiskus (Foto: AP Photo/Andrew Medichini)
Jakarta -

Paus Fransiskus untuk pertama kalinya secara langsung memohon kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan "lingkaran kekerasan dan kematian" di Ukraina. Paus menyebut krisis itu mempertaruhkan eskalasi nuklir dengan konsekuensi global yang tak terkendali.

Dilansir Reuters dan The Star, Senin (3/10/2022), dalam pidato yang didedikasikan untuk Ukraina dan ditujukan kepada ribuan orang di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Roma, Paus Fransiskus juga mengutuk pencaplokan terbaru Putin atas wilayah-wilayah Ukraina sebagai tindakan yang bertentangan dengan hukum internasional. Dia mendesak Putin untuk memikirkan rakyatnya sendiri jika terjadi eskalasi.

Seorang pejabat Vatikan mengatakan pidato yang berapi-api itu mengingatkan pada seruan perdamaian via radio oleh Paus Yohanes XXIII pada tahun 1962 selama Krisis Rudal Kuba.

Ini adalah pertama kalinya Fransiskus, yang sering mengutuk invasi Rusia ke Ukraina dan kematian serta kehancuran yang ditimbulkannya, mengajukan permohonan pribadi secara langsung kepada Putin.

Mengatakan dia dihantui oleh "darah dan air mata yang telah tumpah dalam beberapa bulan ini," Paus Fransiskus juga meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk terbuka terhadap "usulan perdamaian yang serius".

Putin membuat seruan mendesak "atas nama Tuhan" untuk mengakhiri konflik dan mengatakan "tidak masuk akal" bahwa dunia mempertaruhkan konflik nuklir.

"Permohonan saya terutama ditujukan kepada presiden Federasi Rusia, memohon dia untuk menghentikan lingkaran kekerasan dan kematian ini, bahkan karena cinta untuk rakyatnya sendiri," kata Paus Fransiskus pada Minggu (2/10) waktu setempat.

"Di sisi lain, bersedih karena penderitaan besar penduduk Ukraina menyusul agresi yang dialaminya, saya menyampaikan permintaan dengan harapan yang sama kepada presiden Ukraina untuk terbuka terhadap proposal perdamaian yang serius," katanya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT