Polisi Tembak Gas Air Mata ke Demonstran Kedubes Prancis di Burkina Faso

ADVERTISEMENT

Polisi Tembak Gas Air Mata ke Demonstran Kedubes Prancis di Burkina Faso

Eva Safitri - detikNews
Minggu, 02 Okt 2022 16:34 WIB
demo Burkina Faso
Ilustrasi demo di Burkina Faso (Foto: AFP)
Jakarta -

Pasukan keamanan menembakkan gas air mata ke puluhan pengunjuk rasa yang melempar batu di luar kedutaan besar Prancis di Burkina Faso, Afrika Barat. Kerusuhan ini terus terjadi di negara tersebut setelah kudeta kedua.

Dilansir AFP Minggu (2/10/2022), pendukung pemimpin putsch terbaru Burkina telah berkumpul di luar gedung di Ouagadougou sehari setelah dia menuduh orang yang dia gulingkan bersembunyi di pangkalan Prancis untuk merencanakan "serangan balasan".

Saat pasukan Prancis mengawasi dari atap, para pengunjuk rasa membakar penghalang di luar dan melemparkan batu ke arah kedutaan Prancis ketika tembakan gas air mata ditembakkan.

Kekerasan terbaru yang mengguncang negara yang sangat miskin itu dimulai pada hari Jumat, ketika perwira militer junior mengatakan mereka telah menggulingkan pemimpin junta Paul-Henri Sandaogo Damiba. Dengan menuduhnya gagal memadamkan serangan jihadis.

Ini menandai kudeta kedua tahun ini di Burkina Faso dan yang terbaru di wilayah Sahel, yang sebagian besar sedang memerangi pemberontakan Islam yang berkembang.

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di televisi nasional pada hari Sabtu dan ditandatangani oleh Kapten Ibrahim Traore, pemimpin baru negara itu, para perwira mengatakan Damiba "diyakini telah berlindung di pangkalan Prancis di Kamboinsin untuk merencanakan serangan balasan untuk menimbulkan masalah di pasukan pertahanan dan keamanan kita".

Kemudian pada hari Sabtu, Damiba membantah dirinya berada di pangkalan Prancis. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang keberadaannya.

Prancis, bekas kekuatan kolonial di Burkina Faso, pada Sabtu membantah "keterlibatan" dalam kudeta atau bahwa "otoritas Burkinabe telah ditampung atau berada di bawah perlindungan militer Prancis".

Dalam sebuah pernyataan tertulis di halaman Facebook resmi kepresidenan, Damiba mendesak para pesaingnya "untuk sadar untuk menghindari perang saudara yang tidak dibutuhkan Burkina Faso".

Staf umum tentara Burkina Faso menolak kudeta itu sebagai "krisis internal" di dalam militer, dan mengatakan dialog sedang "sedang berlangsung" untuk memperbaiki situasi.

Damiba sendiri berkuasa dalam kudeta pada Januari. Dia mengangkat dirinya sebagai pemimpin negara berpenduduk 16 juta itu setelah menuduh presiden terpilih Roch Marc Christian Kabore gagal memukul mundur para pejuang jihad. Namun pemberontakan terus berkobar.

(eva/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT