Dukung Pembentukan Negara Palestina, PM Israel Dikecam Netanyahu

ADVERTISEMENT

Dukung Pembentukan Negara Palestina, PM Israel Dikecam Netanyahu

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 24 Sep 2022 20:11 WIB
Israel’s Foreign Minister Yair Lapid is the main architect of the Israeli coalition government that ousted ex-premier Benjamin Netanyahu, who signed the Abraham Accords. (AFP)
PM Israel Yair Lapid (dok. AFP Photo)
Tel Aviv -

Perdana Menteri (PM) Israel Yair Lapid dihujani kritikan di dalam negeri usai menegaskan dukungan untuk pembentukan negara Palestina yang 'damai' saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Salah satu kritikan datang dari mantan PM Israel Benjamin Netanyahu.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (24/9/2022), pidato Lapid dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS), pada Kamis (22/9) disampaikan menjelang pemilu Israel pada 1 November mendatang, yang bisa melengserkan Lapid dan melihat kembalinya Netanyahu, rival politiknya.

Dalam pidatonya, Lapid menegaskan kembali posisi yang dipegangnya sejak lama bahwa solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina selama bertahun-tahun, menjadi kepentingan Israel. Gagasan itu memudar selama masa jabatan Netanyahu pada tahun 2009-2021 sebagai PM Israel.

Meskipun ada 'hambatan', sebut Lapid dalam pidatonya, namun 'kesepakatan dengan Palestina, berdasarkan dua negara untuk dua bangsa, adalah hal yang tepat untuk keamanan Israel, untuk ekonomi Israel dan untuk masa depan anak-anak kita'.

Lapid berpendapat bahwa sebagian besar warga Israel mendukung solusi dua negara. "Dan saya salah satunya," ucapnya.

"Kami hanya memiliki satu syarat: bahwa negara Palestina di masa depan harus damai," cetus Lapid, tanpa menyerukan dimulainya kembali perundingan damai.

Ada banyak orang dalam forum Sidang Majelis Umum PBB yang menyoraki pidato Lapid itu, termasuk Presiden AS Joe Biden yang menyebutnya 'berani'.

Tuai pujian dalam forum PBB, Lapid dihujani kritikan di negaranya sendiri. Seperti apa? Simak di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT