Rusia Gelar Referendum di 4 Wilayah, Ukraina Sebut Warga Dipaksa

ADVERTISEMENT

Rusia Gelar Referendum di 4 Wilayah, Ukraina Sebut Warga Dipaksa

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 24 Sep 2022 12:59 WIB
A woman casts her ballot during the first day of a referendum on the joining of Russian-controlled regions of Ukraine to Russia, in Sevastopol, Crimea September 23, 2022. Voting takes place for residents of the self-proclaimed Donetsk (DPR) and Luhansk Peoples Republics (LPR) and Russian-controlled areas of the Kherson and Zaporizhzhia regions of Ukraine. REUTERS/Alexey Pavlishak
Warga Ukraina menggunakan hak suaranya dalam referendum untuk bergabung dengan Rusia (REUTERS/Alexey Pavlishak)
Kiev -

Referendum yang digelar Rusia dalam upaya mencaplok empat wilayah Ukraina yang diduduki pasukan Moskow, menuai kecaman. Para pejabat Ukraina menyebut warga di wilayah yang dikuasai Moskow dipaksa mengikuti referendum yang tengah berlangsung dan akan berlanjut hingga Selasa (27/9) mendatang.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (24/9/2022), para pejabat Ukraina melaporkan bahwa warga dilarang meninggal sejumlah area-area yang diduduki pasukan Rusia hingga pemungutan suara dalam referendum itu berakhir pekan depan.

Disebutkan bahwa sekelompok pasukan bersenjata mendatangi rumah-rumah warga dan para pekerja diancam akan dipecat jika tidak berpartisipasi dalam referendum itu.

Pemungutan suara untuk referendum bergabung dengan Rusia itu tengah berlangsung sejak Jumat (23/9) waktu setempat di empat wilayah yang dikuasai pasukan Moskow, yakni Luhansk, sebagian wilayah Zaporizhzhia dan Donetsk, juga Kherson yang hampir sepenuhnya dikuasai Rusia.

Pemungutan suara yang isinya menanyakan penduduk keempat wilayah itu apakah mereka ingin wilayahnya menjadi bagian dari Federasi Rusia, akan berlangsung hingga Selasa (27/9) mendatang, dengan hasilnya diprediksi akan mengikuti kemauan Moskow.

Hasil referendum itu dinilai akan bisa dijadikan dalih oleh Rusia untuk mengklaim bahwa setiap upaya pasukan Ukraina merebut kembali wilayah-wilayah itu adalah serangan terhadap Rusia sendiri. Hal itu berarti tentunya akan semakin meningkatkan perang yang sudah berlangsung selama tujuh bulan di Ukraina.

Gubernur wilayah Luhansk yang masih dikuasai Ukraina, Serhiy Gaidai, menyatakan penduduk kota Starobilsk dilarang pergi dan orang-orang dipaksa keluar rumah untuk ikut dalam pemungutan suara.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT