Pasukan Moskow Alami Kemunduran di Ukraina, Nasionalis Rusia Marah!

ADVERTISEMENT

Pasukan Moskow Alami Kemunduran di Ukraina, Nasionalis Rusia Marah!

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 12 Sep 2022 14:57 WIB
Armoured fighting vehicles abandoned by Russian soldiers are seen during a counteroffensive operation of the Ukrainian Armed Forces, amid Russias attack on Ukraine, in Kharkiv region, Ukraine, in this handout picture released September 11, 2022. Press service of the Commander-in-Chief of the Armed Forces of Ukraine/Handout via REUTERS
Kendaraan lapis baja ditinggalkan begitu saja oleh tentara Rusia dalam pertempuran dengan pasukan Ukraina di Kharkiv (Press service of the Commander-in-Chief of the Armed Forces of Ukraine/Handout via REUTERS)
Moskow -

Kalangan nasionalis Rusia marah atas kemunduran yang dialami pasukan Moskow dalam pertempuran di Ukraina beberapa waktu terakhir. Mereka bahkan menyerukan dengan amarah kepada Presiden Vladimir Putin untuk segera melakukan perubahan demi memastikan kemenangan akhir dalam perang Ukraina.

Seperti dilansir Reuters, Senin (12/9/2022), seruan kalangan nasionalis Rusia itu dilontarkan pada Minggu (11/9) waktu setempat, atau sehari setelah pasukan Moskow terpaksa meninggalkan benteng utamanya di wilayah Ukraina bagian timur laut.

Jatunya kota Izium di Provinsi Kharkiv dengan cepat ke tangan pasukan Ukraina menjadi kekalahan militer terburuk Rusia, sejak pasukannya dipaksa mundur dari sekitar ibu kota Kiev pada Maret lalu.

Saat pasukan Rusia pada Sabtu (10/9) waktu setempat, meninggalkan kota demi kota di Ukraina yang pernah diduduki, Putin tengah membuka bianglala terbesar di Eropa yang ada di sebuah taman di Moskow. Dalam momen itu kembang api menyala di atas Lapangan Merah untuk merayakan berdirinya Moskow sejak tahun 1147 silam.

Bungkamnya pemerintah Rusia secara total soal kemunduran militer itu -- juga tidak adanya penjelasan resmi soal apa yang terjadi di Ukraina bagian timur laut -- telah memicu kemarahan di kalangan nasionalis Rusia dan kelompok maupun pengamat pro-perang.

Salah satunya Igor Girkin yang dikenal sebagai militan nasionalis dan mantan agen FSB yang membantu perang di Donbas, Ukraina, tahun 2014 lalu. Dalam komentarnya, Girkin membandingkan jatuhnya Izium -- salah satu garis depan utama dalam pertempuran dengan Ukraina -- dengan Pertempuran Mukden tahun 1905 silam ketika Rusia mengalami kekalahan besar dalam perang melawan Jepang yang kemudian memicu revolusi pada tahun yang sama.

Ukraina memuji pencapaian yang didapatnya, di mana ribuan tentara Rusia dilaporkan melarikan diri dan meninggalkan pasokan amunisi dan peralatan militer.

Girkin yang tak henti-hentinya mengkritik para petinggi Rusia, menyebut Menteri Pertahanan (Menhan) Sergei Shoigu sebagai 'pemimpin kardus' dan berulang kali mengatakan Rusia akan kalah di Ukraina jika tidak mendeklarasikan mobilisasi nasional.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT