ADVERTISEMENT

Bentrok dengan Polisi, 4 Demonstran di Somalia Tewas-34 Lainnya Terluka

Farih Maulana Sidik - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 03:00 WIB
Ilustrasi demo ricuh
Ilustrasi demo ricuh (Foto: Ilustrasi: Zaky Alfarabi)
Jakarta -

Ratusan orang turun ke jalan di Hargeisa, Burao dan Erigavo, Somalia, setelah negosiasi antara pemerintah dan partai-partai oposisi gagal. Para pengunjuk rasa itu terlibat bentrok dengan polisi yang mengakibatkan sejumlah demonstran anti-pemerintah tersebut dilaporkan tewas.

Dilansir dari AFP, Jumat (12/8/2022), polisi menembaki para demonstran di beberapa wilayah Somaliland yang memisahkan diri. Bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi itu juga mengakibatkan puluhan demonstran mengalami luka-luka.

Ratusan orang yang turun ke jalan tersebut menuduh pihak berwenang berusaha untuk menunda pemilihan presiden yang dijadwalkan pada November. Para pengunjuk rasa membawa sepanduk bertuliskan 'selenggarakan pemilihan pada 13 November 2022' dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

"Perdamaian hanya bisa menang di Somaliland dengan ketentuan pemilihan yang adil dan bebas, biarkan mereka yang membela demokrasi menang," Abdirahman Mohamed Abdullahi, pemimpin partai oposisi utama Waddani, mengatakan kepada orang banyak di Hargeisa.

Salah satu penyelenggara protes, Ahmed Ismail, mengatakan bahwa tiga orang termasuk seorang wanita tewas di Hargeisa, dan 34 lainnya dirawat di rumah sakit.

"Beberapa orang termasuk salah satu penjaga keamanan pemimpin partai kami tewas, kami masih menyelidiki kematian keseluruhan yang bisa lebih tinggi," kata seorang anggota Waddani kepada AFP.

Saksi mata bernama Abdullahi Mohamud menyebut satu orang tewas di Erigavo selama bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi.

"Polisi berusaha menghentikan para demonstran untuk mencapai persimpangan utama kota Erigavo tetapi para pengunjuk rasa yang gigih menyerbu blokade mereka," katanya.

Jajak pendapat dijadwalkan pada 13 November, tetapi pihak oposisi telah menyuarakan keprihatinan bahwa pemerintah menyeret kakinya dalam persiapan.

Keputusan pemerintah untuk mendaftarkan partai politik baru menjelang pemilihan juga membuat marah Waddani dan partai oposisi Keadilan dan Kesejahteraan (UCID) karena khawatir hal itu akan melemahkan dukungan bagi mereka.

"Kami tidak akan menghentikan demonstrasi ini sampai presiden (Muse Bihi Abdi) mengumumkan dia siap untuk pemilihan," kata Heybe Adan, salah satu pengunjuk rasa.

(fas/fas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT