ADVERTISEMENT

AS Minta Rusia Setop Operasi Militer di Dekat Lokasi Nuklir di Ukraina

Eva Safitri - detikNews
Senin, 08 Agu 2022 23:51 WIB
The White House is seen from the Washington Monument grounds, Thursday, July 21, 2022 in Washington. President Joe Biden tested positive for COVID-19 on Thursday and is experiencing very mild symptoms, the White House said, as new variants of the highly contagious virus are challenging the nations efforts to resume normalcy after two and a half years of pandemic disruptions. (AP Photo/Nathan Howard)
Gedung Putih (Foto: AP/Nathan Howard)
Jakarta -

Gedung Putih meminta Rusia untuk menghentikan semua operasi militer di sekitar fasilitas nuklir di Ukraina. Rusia diminta mengembalikan kendali penuh wilayah tersebut ke Ukraina.

"Berperang di dekat pembangkit nuklir itu berbahaya," kata juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre kepada wartawan di atas Air Force One selama penerbangan ke Kentucky, di mana Presiden Joe Biden akan mengunjungi daerah-daerah yang dilanda banjir, dilansir AFP, Senin (8/8/2022).

"Dan kami terus meminta Rusia untuk menghentikan semua operasi militer di atau dekat fasilitas nuklir Ukraina dan mengembalikan kendali penuh ke Ukraina," kata Jean-Pierre.

Zaporizhzhia - kompleks tenaga atom terbesar di Eropa - diduduki oleh Rusia pada awal invasi. Baru-baru ini terjadi pertempuran di sana dan telah menimbulkan kekhawatiran akan kecelakaan nuklir.

Jean-Pierre mengatakan Amerika Serikat terus "memantau dengan cermat" situasi di fasilitas itu dan sensor radiasi "untungnya" tidak menunjukkan indikasi peningkatan atau tingkat radiasi yang tidak normal.

"Kami juga mengetahui laporan perlakuan buruk terhadap staf (pembangkit) dan kami memuji otoritas dan operator Ukraina atas komitmen mereka terhadap keselamatan dan keamanan nuklir dalam situasi sulit," katanya.

Jean-Pierre mengatakan Amerika Serikat mendukung upaya pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional, untuk membantu Ukraina dengan langkah-langkah keselamatan dan keamanan nuklir.

Kyiv menyerukan pembentukan zona demiliterisasi di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir di Ukraina timur.

Diketahui, dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi serangan yang merusak beberapa struktur, memaksa penutupan reaktor.

"Yang perlu dilakukan adalah menyingkirkan pasukan pendudukan dari stasiun dan membuat zona de-militerisasi di wilayah stasiun," kata Petro Kotin, presiden perusahaan energi nuklir Ukraina, Energoatom.

Pertempuran baru-baru ini di pabrik telah mendorong IAEA untuk memperingatkan "risiko yang sangat nyata dari bencana nuklir."

Sementara, Kremlin menuduh pasukan Ukraina menembaki pabrik Zaporizhzhia, memperingatkan potensi "konsekuensi bencana" bagi Eropa.

(eva/isa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT