ADVERTISEMENT

Kudeta Gagal Turki Disebut Dirancang Demi Singkirkan Oposisi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 29 Jul 2022 02:09 WIB
Supporters hold a banner with a photo of Turkish President Tayyip Erdogan during a pro-government demonstration in Sarachane park in Istanbul, Turkey, July 19, 2016. REUTERS/Alkis Konstantinidis
Ilustrasi bendera Turki (Alkis Konstantinidis/Reuters/detikFoto)
Jakarta -

Kudeta gagal yang terjadi di Turki pada 2016 dinilai sebagai upaya untuk menyingkirkan oposisi. Hal ini dinilai dari bagaimana cara Turki melakukan pembersihan terhadap mereka yang dituding melakukan kudeta.

Dilansir dari Gazeta Express, Kamis (28/5/2022) Executive Director of Alliance for Shared Values, New Jersey, Amerika, Y Alp Aslandogan awalnya menjelaskan bahwa di dunia saat ini diwarnai dengan para pemimpin yang gemar merebut kekuasaan dan mengukuhkan diri dalam kekuasaan usai terpilih.

Dia menilai para pemimpin ini menggunakan 'manual otokrat' demi memperluas kekuasaan eksekutifnya. Hal ini dilakukan dengan mengorbankan parlemen dan lembaga pemerintah, menekan perbedaan pendapat demokratis, menarik populisme dan nasionalisme, mengendalikan media dan informasi.

"Ini sebuah panduan manual, pada tingkat yang berbeda, yang bisa dilihat terjadi di antara para pemimpin negara-negara seperti Nikaragua, Venezuela, Hungaria, Belarus, Rusia dan Turki, yang telah menambahkan babak baru dari 'sebuah kudeta bertahap'," kata Alp Aslandogan.

Aslandogan menceritakan bagaimana enam tahun lalu pada 15 Juli 2016, sekelompok anggota militer Turki dimobilisasi dalam upaya kudeta untuk menggulingkan pemerintah, yang merenggut nyawa lebih dari 250 orang dan membuat 2.100 orang terluka.

Tentara Turki melakukan kudeta militer. Sedangkan pemerintahan telah berubah tiga kali sebelumnya sebagai akibat dari kudeta.

"Ketidakmampuan yang luar biasa dari upaya kudeta ini dikombinasikan dengan sambutan gembira Presiden Erdogan, yang mengumumkan tersangka pelaku tanpa penyelidikan, pembersihan besar-besaran dan cepat berdasarkan daftar pembersihan yang sudah ada sebelumnya, membuat pengamat asing percaya bahwa ini bukan kudeta nyata tetapi sebuah kudeta yang dirancang," kata Aslandogan.

Sementara itu, David Weinberg, Wakil Presiden Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem, menyatakan bahwa insiden itu mengandung tanda-tanda yang jelas dari operasi palsu, yaitu operasi penyamaran yang tampaknya dilakukan oleh pihak lain.

Upaya itu dinilai sangat ceroboh. Sebab rencana ini dilakukan pada hari yang 'salah'.

"Para pelaku atau aktor gagal dengan cepat menguasai simpul-simpul utama kekuasaan dan saluran komunikasi utama untuk Erdogan. Mereka juga gagal menangkap pejabat penting pemerintah dan melewatkan beberapa peluang bagus untuk menangkap Erdogan sendiri," kata David Weinberg.

Simak juga 'Turki Pastikan Ekspor Pertama dari Pelabuhan Ukraina dalam Waktu Dekat':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT