ADVERTISEMENT

Rusia Fokus Gempur Donetsk, Ukraina Serukan 350.000 Warga Mengungsi!

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 06 Jul 2022 12:07 WIB
Smoke rises over the remains of a building destroyed by a military strike, as Russias attack on Ukraine continues, in Lysychansk, Luhansk region, Ukraine June 17, 2022. REUTERS/Oleksandr Ratushniak/File Photo
Ilustrasi -- Dampak pertempuran Rusia dan Ukraina di kota Lysychansk, Luhansk (REUTERS/Oleksandr Ratushniak/File Photo)
Kiev -

Pasukan Rusia semakin meningkatkan serangan di wilayah Donetsk, Ukraina bagian timur, setelah berhasil menguasai sepenuhnya Luhansk. Gubernur Donetsk Pavlo Kyrylenko pun menyerukan lebih dari 350.000 warganya untuk mengungsi dari wilayah tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (6/7/2022), Kyrylenko mengatakan bahwa mengeluarkan warga dari Provinsi Donetsk diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dan mempermudah pasukan Ukraina untuk dengan lebih baik mempertahankan wilayah itu dari serangan Rusia.

"Nasib seluruh negara akan diputuskan oleh wilayah Donetsk," sebut Kyrylenko kepada wartawan di Kramatrosk, yang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Donetsk dan lokasi markas besar regional militer Ukraina.

"Begitu ada lebih sedikit orang, kita akan mampu lebih berkonsentrasi pada musuh kita dan melakukan tugas utama kita," tegasnya.

Seruan Kyrylenko agar warga Donetsk mengungsi tampaknya mewakili salah satu evakuasi perang terbesar sejauh ini, meskipun tidak diketahui secara jelas apakah orang-orang bersedia untuk mengungsi dan mampu dievakuasi dengan aman.

Menurut badan pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), lebih dari 7,1 juta warga Ukraina kini mengungsi di dalam negara itu, dan lebih dari 4,8 juta pengungsi telah meninggalkan Ukraina sejak Rusia menginvasi pada 24 Februari lalu.

Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa peringatan udara dirilis pada Selasa (5/7) malam di hampir seluruh wilayah Ukraina, di banyak tempat setelah periode relatif tenang yang lama, yang membuat banyak orang bertanya-tanya.

"Anda tidak seharusnya mencari logika dalam tindakan teroris," ucap Zelensky dalam pidato terbarunya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT