ADVERTISEMENT

10.000 Pengungsi Rohingya Demo di Bangladesh, Minta Pulang ke Myanmar

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 20 Jun 2022 13:31 WIB
Tens of thousands of Rohingya refugees participated in rallies at dozens of camps in southeast Bangladesh Tanbir MIRAJ AFP
Puluhan ribu pengungsi Rohingya di Bangladesh menggelar unjuk rasa menuntut pemulangan ke Myanmar (Tanbir MIRAJ/AFP)
Dhaka -

Puluhan ribu pengungsi Rohingya yang ada di Bangladesh menggelar unjuk rasa untuk menuntut pemulangan kembali ke Myanmar. Kondisi buruk di kamp-kamp penampungan di Bangladesh mendorong para pengungsi untuk meminta pemulangan ini.

Seperti dilansir AFP, Senin (20/6/2022), nyaris 1 juta pengungsi Rohingya ditampung di kamp-kamp pengungsian yang ada di Bangladesh sejak mereka melarikan diri dari operasi brutal militer Myanmar sekitar lima tahun lalu.

Para pengungsi Rohingya itu harus tinggal di gubuk bambu dan terpal yang tersebar di sebanyak 34 kamp kumuh di wilayah Bangladesh bagian tenggara. Selama berada di kamp itu, mereka juga tidak mendapatkan akses ke pekerjaan, memiliki sanitasi yang buruk dan sedikit akses pada pendidikan.

Situasi semakin sulit dengan otoritas Bangladesh secara ketat melarang para pengungsi Rohingya itu untuk menggelar unjuk rasa, sejak mereka menggelar demo besar-besaran yang melibatkan 100.000 orang pada Agustus 2019 lalu.

Namun otoritas setempat akhirnya mengizinkan sejumlah kelompok pengungsi Rohingya untuk menggelar aksi dan pawai 'Go Home' pada Minggu (19/6) waktu setempat. Aksi itu digelar menjelang peringatan Hari Pengungsi Dunia yang jatuh pada Senin (20/6) waktu setempat.

"Kami tidak ingin tinggal di kamp. Menjadi pengungsi tidak mudah. Ini neraka. Cukup sudah. Mari kita pulang," tegas pemimpin komunitas Rohingya, Sayed Ullah, dalam orasinya saat unjuk rasa.

Kepolisian setempat menyebut ribuan pengungsi, yang termasuk anak-anak, bergabung dalam unjuk rasa itu. Mereka berdiri di ruas jalanan dan gang-gang dengan membawa poster bertuliskan 'Cukup sudah! Ayo pulang."

"Lebih dari 10.000 pengungsi Rohingya ikut unjuk rasa di kamp-kamp di bawah yurisdiksi saya," ujar pejabat kepolisian setempat, Naimul Haque, kepada AFP, merujuk pada Kutupalong yang merupakan kompleks kamp pengungsi terbesar di dunia.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT