Marak Penembakan Massal, Biden Emosional Minta Parlemen AS Bertindak

ADVERTISEMENT

Marak Penembakan Massal, Biden Emosional Minta Parlemen AS Bertindak

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 03 Jun 2022 11:57 WIB
President Joe Biden speaks about Ukraine in the Roosevelt Room of the White House, Friday, Feb. 18, 2022, in Washington. (AP Photo/Alex Brandon)
Presiden AS Joe Biden (dok. AP Photo/Alex Brandon)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyampaikan permohonan emosional untuk para anggota parlemen AS agar mengambil tindakan terhadap kekerasan senjata yang marak di negara tersebut. Biden menyerukan adanya larangan untuk senjata serbu yang kerap digunakan dalam aksi penembakan massal.

Seperti dilansir AFP, Jumat (3/6/2022), permohonan dan seruan itu disampaikan Biden dalam pidato berdurasi 17 menit pada Kamis (2/6) waktu setempat, dengan 56 lilin dinyalakan di sepanjang koridor di belakangnya, mewakili negara bagian dan wilayah AS yang dilanda kekerasan bersenjata.

Pidato itu mencakup seruan terbaru untuk aturan senjata api yang lebih ketat di AS, setelah penembakan massal terjadi di Texas dan New York beberapa waktu lalu.

"Berapa banyak lagi pembantaian yang akan kita biarkan?" ucap Biden dalam pidatonya, yang disampaikan dengan nada kemarahan dan sesekali nyaris berbisik.

"Kita tidak bisa mengecewakan rakyat Amerika lagi," imbuhnya, sembari mengecam penolakan mayoritas Senator Partai Republik untuk mendukung aturan hukum lebih ketat sebagai hal yang 'tidak masuk akal'.

Setidaknya, sebut Biden, para anggota parlemen AS harus menaikkan batasan usia untuk pembelian senjata serbu, dari 18 tahun menjadi 21 tahun. Hal itu dipandang menjadi salah satu langkah untuk membantu mengurangi tindak kekerasan bersenjata yang mengubah sekolah dan rumah sakit menjadi 'zona pembunuhan'.

Dalam pidatonya, Biden juga mendorong para anggota parlemen AS untuk mengambil sejumlah langkah termasuk memperkuat pemeriksaan latar belakang, melarang magazin berkapasitas tinggi, mewajibkan penyimpanan senjata yang aman dan memungkinkan produsen senjata untuk bertanggung jawab atas tindak kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan produk-produk mereka.

"Selama dua dekade terakhir, lebih banyak anak usia sekolah tewas karena senjata daripada jumlah polisi dan personel militer yang bertugas jika digabungkan. Pikirkan soal itu," cetusnya.

Simak Video 'Penembakan di AS Kembali Terjadi, 4 Orang Tewas di Oklahoma':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT