Rusia Kini Kuasai Kota Strategis Lyman di Ukraina Timur

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 28 Mei 2022 18:37 WIB
Invasi Rusia ke Ukraina masih terus berlanjut. detikcom merangkum jejak kehancuran sejauh ini di kawasan paling digempur habis-habisan.
kehancuran di Ukraina akibat serangan Rusia (Foto: Reuters)
Jakarta -

Militer Rusia mengkonfirmasi bahwa mereka telah merebut kota strategis Lyman di Ukraina timur. Kota ini berada di jalan menuju dua kota utama yang masih berada di bawah kendali pemerintah Ukraina.

"Menyusul aksi bersama unit-unit milisi Republik Rakyat Donetsk dan angkatan bersenjata Rusia, kota Krasny Liman telah sepenuhnya dibebaskan dari para nasionalis Ukraina," kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Sabtu (28/5), membenarkan pengumuman sehari sebelumnya oleh separatis pro-Moskow.

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (28/5/2022), Krasny Liman, yang berpenduduk sekitar 20.000 orang sebelum perang ini terjadi, adalah nama lama dari kota Lyman.

Terletak di utara wilayah Donetsk, Ukraina timur, kota Lyman terletak di jalan menuju Sloviansk dan Kramatorsk, ibu kota bagian wilayah yang dikuasai Ukraina.

Setelah tidak lagi berupaya menguasai ibu kota Ukraina, Kiev dan kota terbesar kedua Kharkiv, Presiden Rusia Vladimir Putin sekarang mengusahakan kemenangan di wilayah timur Ukraina, yang sebagian besar penduduknya berbahasa Rusia dan diklaim Moskow jadi sasaran genosida Ukraina.

Dilansir dari BBC, pasukan Rusia kini gencar membombardir kota-kota di Ukraina timur dengan tujuan "membebaskan" pusat industri bernama Donbas.

Ukraina mengatakan pertempuran di Donbas kini merupakan yang terbesar di tanah Eropa sejak Perang Dunia Kedua. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersumpah bahwa pasukannya "akan berjuang untuk setiap jengkal tanah kami".

Pengalihan pasukan ke daerah timur yang dikenal sebagai Donbas ini berpotensi membuat pertempuran kedua negara jadi berlarut-larut.

"Saya khawatir Putin, dengan biaya besar untuk dirinya sendiri dan militer Rusia, terus menggerogoti Donbas," kata PM Inggris, Boris Johnson, kepada Bloomberg.

(ita/ita)