Uni Eropa Sebut Rusia Jadi Ancaman Paling Langsung bagi Tatanan Dunia

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 12 Mei 2022 15:12 WIB
European Commission President Ursula von der Leyen makes a statement in Brussels on April 27, 2022, following the decision by Russian energy giant Gazprom to halt gas shipments to Poland and Bulgaria in Moscows latest use of gas as a weapon in the conflict in Ukraine. (Photo by Kenzo TRIBOUILLARD / POOL / AFP)
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (dok. AFP/KENZO TRIBOUILLARD)
Tokyo -

Para pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan bahwa Rusia kini memberikan 'ancaman paling langsung' terhadap tatanan dunia. Mereka juga mendesak China untuk memainkan peran lebih konstruktif di kancah internasional terkait invasi Rusia ke Ukraina.

Seperti dilansir AFP dan CNN, Kamis (12/5/2022), Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel tengah berada di Jepang untuk membahas isu invasi Rusia dan kekhawatiran yang berkembang soal peran China di kawasan Asia dan sekitarnya.

"(Rusia) Saat ini merupakan ancaman paling langsung bagi tatanan dunia dengan perang biadab terhadap Ukraina, dan pakta mengkhawatirkan dengan China dan seruan mereka untuk hubungan internasional yang baru dan sangat sewenang-wenang," sebut Von der Leyen dalam pernyataan kepada wartawan setempat.

Komentar itu disampaikan Von der Leyen usai bertemu dan berbicara dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida di Tokyo.

"Invasi Rusia ke Ukraina bukan hanya persoalan Eropa, tapi juga mengguncang inti tatanan internasional termasuk Asia. Ini tidak boleh ditoleransi," ujar Kishida, yang pemerintahannya bergabung dengan negara-negara Barat dalam menjatuhkan sanksi terhadap Moskow.

Pertemuan tahunan ini digelar saat banyak anggota komunitas internasional yang mengerahkan tekanan terhadap Rusia terkait Ukraina. Sikap China yang semakin menancapkan pengaruhnya di Asia juga masuk agenda pembahasan, dengan Uni Eropa ingin mengambil peran yang lebih penting dalam menghadapi China.

"Kerja sama kita di Ukraina sangat penting di Eropa, tapi juga penting di Indo-Pasifik, dan kita juga ingin memperdalam konsultasi kita soal China yang lebih asertif," ucap Michel dalam forum yang sama.