Yoon Suk-yeol Dilantik Jadi Presiden Korsel, Serukan Denuklirisasi Korut

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 10 Mei 2022 10:40 WIB
Jakarta -

Yoon Suk-yeol dilantik sebagai Presiden Korea Selatan (Korsel) pada Selasa (10/5) dalam sebuah seremoni besar di Majelis Nasional Seoul.

Dilansir dari kantor berita AFP, Selasa (10/5/2022), Yoon memulai jabatannya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Korea Utara (Korut) yang bersenjata nuklir.

"Saya bersumpah di depan orang-orang bahwa saya akan setia menjalankan tugas presiden," kata Yoon, yang telah bersumpah untuk bersikap keras terhadap Pyongyang.

Presiden baru Korea Selatan itu menyerukan "denuklirisasi penuh" Korea Utara, dengan mengatakan program senjata negara tetangga itu merupakan ancaman bagi keamanan global.

Dalam pidato pelantikannya, dia mengatakan bahwa jika Pyongyang "benar-benar memulai proses untuk menyelesaikan denuklirisasi", dia siap untuk menyajikan "rencana berani" untuk meningkatkan perekonomian negara miskin itu.

YoonSuk-yeol menggantikan presiden Moon Jae In yang telah menyelesaikan masa jabatan lima tahunnya. Dalam pidato perpisahannya pada Senin (9/5), Moon mengharapkan upaya memulihkan perdamaian dan denuklirisasi di semenanjung Korea bisa terus berlanjut.

"Perdamaian adalah syarat untuk kelangsungan hidup dan kemakmuran kita. Saya sangat berharap upaya untuk melanjutkan dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara, membangundenuklirisasi, dan perdamaian akan terus berlanjut," kata Moon pada video yang disiarkan secara langsung seperti diberitakan media Deutsche Welle (DW).

Pada pidato terakhirnya itu, Moon mengklaim pemerintahnya membantu meringankan bahaya perang di semenanjung Korea dan memunculkan perdamaian melalui diplomasi.

"Alasan mengapa kami gagal melangkah lebih jauh bukan karena kami tidak memiliki suara dan tekad untuk melakukannya. Ada penghalang yang tidak bisa kami atasi hanya dengan tekad kami. Itu adalah penghalang yang harus kita atasi," kata Moon, tanpa menjelaskan apa hambatannya.

(ita/ita)