PM Israel Berharap Adanya Perubahan Rezim Iran

Tim detikcom - detikNews
Senin, 21 Mar 2022 11:43 WIB
Israels new prime minister Naftali Bennett holds a first cabinet meeting in Jerusalem Sunday, June 13, 2021. Israels parliament has voted in favor of a new coalition government, formally ending Prime Minister Benjamin Netanyahus historic 12-year rule. Naftali Bennett, a former ally of Netanyahu became the new prime minister (AP Photo/Ariel Schalit)
PM Israel Naftali Bennett (Foto: AP/Ariel Schalit)
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett mengharapkan perubahan rezim bagi rakyat Iran, musuh bebuyutannya. Hal itu disampaikan pemimpin negeri Yahudi itu dalam pesan yang menandai Tahun Baru Persia, atau Nowruz.

"Nowruz secara harfiah berarti 'hari baru. Dan itulah harapan terbesar saya kepada Anda, rakyat Iran: bahwa Anda akan melihat hari baru -- hari kebebasan dari rezim Iran yang kejam," katanya dalam pesan video dalam bahasa Inggris, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Senin (21/3/2022).

Israel menganggap Iran sebagai "ancaman eksistensial" dan kedua negara telah berselisih sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah yang didukung Barat.

Pernyataan Bennett ini disampaikan seiring Israel menentang keras dihidupkannya kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara besar.

Kesepakatan itu memberikan keringanan sanksi yang sangat dibutuhkan republik Islam itu sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.

Pekan lalu, Bennett telah meminta AS untuk tidak menghapus Garda Revolusi Iran dari daftar hitam organisasi teroris asing sebagai bagian dari kesepakatan baru dengan Iran.

Korps Garda Revolusi Iran "adalah organisasi teroris yang telah membunuh ribuan orang, termasuk orang-orang Amerika", katanya dalam pernyataan bersama dengan Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid.

Sebelumnya, Amerika Serikat telah mengatakan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan untuk memulihkan kesepakatan nuklir Iran 2015.

"Kami hampir mencapai kemungkinan kesepakatan, tetapi kami belum sampai di sana," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price. "Kami pikir masalah yang tersisa dapat dijembatani," imbuhnya.

Simak Video 'Detik-detik Rudal Iran Hantam Kota Arbil Irak':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)