Laporan PBB: Korut Kembangkan Rudal-Nuklir dari Profit Serangan Siber

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 06 Feb 2022 18:56 WIB
Korea Utara baru saja meluncurkan rudal balistik dari kereta api. Dilansir Associated Press, peluncuran rudal ini sebagai pembalasan terhadap saksi yang dijatuhkan Amerika Serikat.
Rudal Korut (Foto: Screenshoot AFP)
Jakarta -

Korea Utara belakangan rutin mengembangkan program nuklir dan rudal balistiknya selama beberapa tahun terakhir. Laporan rahasia PBB menyebut negara tersebut mendapatkan dana pengembangan dari serangan siber yakni peretasan aset kripto.

Dilansir Reuters, Minggu (6/2/2022) laporan rahasia PBB yang dilihat Reuters dibuat oleh pemantau sanksi independen. Laporan itu diserahkan pada Jumat (4/2) malam waktu setempat kepada komite sanksi Korea Utara Dewan Keamanan PBB.

"Meskipun tidak ada uji coba nuklir atau peluncuran ICBM (rudal balistik antarbenua) yang dilaporkan, DPRK (Korut-red) terus mengembangkan kemampuannya untuk produksi bahan fisil nuklir," tulis para ahli.

Diketahui sejak lama Korea Utara dilarang melakukan uji coba nuklir dan peluncuran rudal balistik oleh Dewan Keamanan PBB.

"Pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur nuklir dan rudal balistik DPRK terus berlanjut, dan DPRK terus mencari materi, teknologi, dan pengetahuan untuk program-program ini di luar negeri, termasuk melalui sarana dunia maya dan penelitian ilmiah bersama," kata laporan itu.

Sumber Dana Pengembangan Rudal Nuklir Korut dari Peretasan Kripto

Dalam laporan serupa, Korut disebut mendapatkan sumber pendapatan penting dari serangan siber, terutama dari peretasan kripto.

"Serangan siber, khususnya pada aset mata uang kripto, tetap menjadi sumber pendapatan penting bagi Korea Utara dan bahwa mereka telah menerima informasi bahwa peretas Korea Utara terus menargetkan lembaga keuangan, perusahaan mata uang kripto, dan bursa," demikian disampaikan para pemantau sanksi independen.

"Pelaku siber DPRK (Korut) mencuri lebih dari $50 juta antara tahun 2020 dan pertengahan 2021 dari setidaknya tiga pertukaran mata uang kripto di Amerika Utara, Eropa, dan Asia," kata laporan itu.

Pemantau juga mengutip laporan bulan lalu oleh perusahaan keamanan siber Chainalysis. Disebutkan Korut meluncurkan setidaknya tujuh serangan terhadap platform cryptocurrency, yang mengekstraksi aset digital senilai hampir $400 juta pada tahun lalu.