Presiden Kazakhstan Bicara Soal Upaya Kudeta di Tengah Kerusuhan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 10 Jan 2022 17:56 WIB
In this image taken from video released by Kazakhstans Presidential Press Service, Kazakhstans President Kassym-Jomart Tokayev speaks during his televised statement to the nation in Nur-Sultan, Kazakhstan, Friday, Jan. 7, 2022. In the face of mounting domestic unrest and apparent uncertainty over the loyalty of law enforcement and military forces, Kazakhstans president has turned to a Russia-dominated security alliance for help. The Collective Security Treaty Organization was formed in the first half of the 1990s following the collapse of the Soviet Union. Besides Russia, it includes Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, and Tajikistan. (Kazakhstans Presidential Press Service via AP)
Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev (Kazakhstan's Presidential Press Service via AP)
Nur-Sultan -

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, menyatakan negaranya telah menggagalkan upaya kudeta saat kerusuhan yang diwarnai kekerasan melanda. Tokayev tidak menyebut pelaku di balik upaya kudeta itu, dia hanya menyebut upaya itu dikoordinasikan oleh apa yang disebutnya sebagai 'pusat tunggal'.

Seperti dilansir Reuters, Senin (10/1/2022), Tokayev dalam pidatonya saat rapat online dengan aliansi militer Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang dipimpin Rusia, menegaskan ketertiban telah dipulihkan di Kazakhstan, tapi perburuan terhadap 'para teroris' masih berlangsung.

"Dengan kedok unjuk rasa spontan, gelombang kerusuhan pecah... Itu menjadi jelas bahwa tujuan utamanya adalah merusak tatanan konstitusional dan untuk merebut kekuasaan. Kita berbicara soal upaya kudeta," kata Tokayev dalam pidatonya.

Unjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar pecah sepekan lalu setelah meluas menjadi aksi memprotes pemerintahan Tokayev dan mantan Presiden Nursultan Nazabayev (81) yang menjabat sebelum Tokayev.

"Pukulan utama ditujukan untuk (kota) Almaty. Jatuhnya kota ini akan membuka jalan untuk pengambilalihan wilayah selatan yang padat penduduk dan kemudian seluruh negeri ini. Kemudian mereka berencana merebut ibu kota," ucap Tokayev.

Tokayev menyebut bawa operasi 'kontra-terorisme' skala besar akan segera berakhir dengan misi CSTO, yang disebutnya terdiri atas 2.030 tentara dan 250 unit perangkat keras militer.

Lebih lanjut, Tokayev membela keputusannya mengundang tentara aliansi militer pimpinan Rusia ke Kazakhstan dan menyatakan bahwa keraguan atas legitimasi misi itu berasal dari kurangnya informasi.

Simak video 'Ratusan Warga Tewas, Pekan Paling Berdarah di Kazakhstan':

[Gambas:Video 20detik]