Presiden Prancis Ancam Persulit Hidup Warganya yang Tak Ingin Divaksinasi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 05 Jan 2022 05:05 WIB
French President Emmanuel Macron reacts as he listen to the speech of Portuguese Prime Minister Antonio Costa, Wednesday, Dec. 16, 2020 in Paris. French President Emmanuel Macron has tested positive for COVID-19, the presidential Elysee Palace announced on Thursday. (AP Photo/Francois Mori)
Foto: Emmanuel Macron (AP Photo/Francois Mori)
Paris -

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan warganya yang belum juga divaksinasi COVID-19 sampai saat ini. Dia memastikan akan membuat sulit kehidupan warganya yang tidak mau divaksinasi.

Seperti dilansir AFP, Rabu (5/1/2022), Macron memastikan bakal melakukan strategi mempersulit warganya tersebut sampai akhir. Dia memastikan akan mempersulit dengan membatasi sebanyak mungkin akses bagi mereka yang tak ingin divaksinasi dalam hidup bersosial.

"Untuk yang tidak divaksinasi, saya benar-benar ingin merepotkan mereka. Dan kami akan terus melakukan ini, sampai akhir. Ini adalah strateginya," katanya kepada surat kabar Le Parisien dalam sebuah wawancara.

"Membatasi sebanyak mungkin akses mereka ke aktivitas dalam kehidupan sosial," lanjutnya.

Macron menegaskan tidak akan memenjarakan warganya yang tidak mau divaksinasi ataupun memaksakan mereka. Namun dia menegaskan bagi warga yang tidak ingin divaksinasi akan dilarang ke restoran, ke cafe, teater, hingga pergi ke bioskop.

"Saya tidak akan memenjarakan mereka (yang tidak divaksinasi), saya tidak akan memvaksinasi mereka secara paksa," tuturnya.

"Jadi, kami harus memberi tahu mereka: mulai 15 Januari, Anda tidak akan bisa lagi pergi ke restoran. Anda tidak lagi bisa pergi minum kopi, Anda tidak bisa lagi pergi ke teater. Anda tidak akan bisa lagi pergi ke bioskop," lanjut dia.

Sementara itu, kepala partai republik sayap kanan di majelis tinggi senat, Bruno Retailleau menuding Macron terlalu jauh memperingati warganya berkaitan dengan COVID-19. Menurutnya Macron terkesan sangat membenci warganya.

"Tidak ada keadaan darurat kesehatan yang membenarkan kata-kata seperti itu," kata Bruno Retailleau.

"Emmanuel Macron mengatakan dia telah belajar untuk mencintai Prancis, tetapi tampaknya dia sangat suka membenci mereka. Kami dapat mendorong vaksinasi tanpa menghina siapa pun atau mendorong mereka ke radikalisasi," imbuhnya.

Simak juga Video: Prancis Bedakan Jangka Waktu Karantina Warga yang Belum Divaksin

[Gambas:Video 20detik]



(maa/maa)