Pidato Pergantian Tahun Tak Biasa dari Kim Jong-Un

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Jan 2022 22:03 WIB
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, kini menjadi sorotan. Bukan karena kebijakannya, melainkan karena penampilannya yang dinilai lebih kurus.
Foto: Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un (AP)
Jakarta -

Ada yang tak biasa dari Pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-Un. Pada pidato pergantian tahun 2021 ke 2022 ini, ia menyingkirkan isu nuklir.

Tak hanya isu nuklir, kali ini pidatonya tak menyinggung apapun perihal Amerika Serikat (AS). Untuk diketahui, Jong-Un menyampaikan pidato menjelang tahun baru untuk menandai 10 tahun kekuasaannya.

Dilansir Reuters, Sabtu (1/1/2021), Jong-Un menyampaikan tujuan utama Korut di tahun yang baru ini adalah pembangunan ekonomi dan peningkatan taraf hidup rakyat. Isi pidato Jong-Un tersebut dilaporkan media nasional Korut.

Pidato itu disampaikan Jong-Un jelang pergantian tahun pada Jumat (31/12) waktu setempat. Dia berpidato saat mengakhiri rapat pleno Komisi Pusat Partai Buruh Korea yang digelar sejak Senin (27/12) waktu setempat.


Diketahui dalam pidato jelang Tahun Baru sebelumnya, Jong-Un selalu mengumumkan kebijakan besar termasuk peluncuran keterlibatan diplomatik dengan Korea Selatan (Korsel) dan AS. Namun ringkasan pidatonya yang dirilis media nasional Korut tidak menyebut soal AS, dengan hanya menyinggung soal diskusi hubungan antar-Korea dan 'urusan eksternal'.

Fokus urusan domestik dalam pidato terbaru Jong-Un menggarisbawahi krisis ekonomi yang tengah dihadapi Korut, di mana penutupan perbatasan selama pandemi virus Corona (COVID-19) telah membuat Korut lebih terisolasi daripada sebelumnya.

"Tugas-tugas dasar yang dihadapi tahun selanjutnya adalah memberikan jaminan teguh untuk menerapkan rencana lima tahun dan membuat perubahan luar biasa dalam pembangunan nasional dan kehidupan rakyat," ucap Jong-Un dalam pidatonya.

Kim Jong-Un menghabiskan sebagian besar pidatonya untuk membahas isu-isu domestik, mulai dari rencana ambisius untuk pembangunan pedesaan hingga pola makan rakyat, seragam sekolah dan perlunya menindak 'praktik non-sosialis'.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.