Sepak Terjang Desmond Tutu, Aktivis Anti Rasisme Peraih Hadiah Nobel

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 26 Des 2021 15:51 WIB
Archbishop Desmond Tutu talks to reporters after his meeting with Myanmar democracy leader Aung San Suu Kyi at Suu Kyis residence in Yangon on Feb 26, 2013. (Photo: AFP/ Soe Than Win)
Foto: Aung San Suu Kyi dan Desmond Tutu (Photo: AFP/ Soe Than Win)

Ia dikenal begitu gencar melawan apartheid, sistem pembedaan hukum sosial berdasarkan warna kulit. Dia adalah sosok yang menciptakan dan mempopulerkan istilah "Bangsa Pelangi" untuk menggambarkan Afrika Selatan ketika Nelson Mandela menjadi presiden kulit hitam pertama di negara itu.

Berkat perjuangannya ini, ia diganjar Hadiah Nobel Perdamaian padat tahun 1984. Diangkat menjadi Uskup Agung pada tahun 1986, ia menggunakan posisinya untuk mengadvokasi sanksi internasional terhadap apartheid, dan kemudian melobi hak-hak secara global.

Pada 1997, Desmond Tutu didiagnosis menderita kanker prostat dan harus menjalani perawatan.

Pada Mei 2021 lalu, Tutu muncul kembali di depan publik saat menerima vaksin Covid-19. Dia terlihat di luar Rumah Sakit dengan kursi roda sambil melambai tanpa sepatah kata pun.

Tutu Wafat

Pejuang anti rasisme ini kini telah pergi. Kabar itu disampaikan oleh Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa.

"Meninggalnya Uskup Agung Emeritus Desmond Tutu adalah babak lain dari duka dalam perpisahan bangsa kita dengan generasi Afrika Selatan yang luar biasa, yang telah mewariskan kepada kita Afrika Selatan yang telah dibebaskan," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP dan BBC, Minggu (26/12/2021).

Presiden Ramaphosa mengatakan Tutu adalah "seorang pemimpin spiritual ikonik, aktivis anti-apartheid dan juru kampanye hak asasi manusia global".

Dia menggambarkannya sebagai "seorang patriot tanpa tandingan; seorang pemimpin berprinsip dan pragmatis yang memberi makna pada wawasan alkitabiah bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati."

"Seorang pria dengan kecerdasan luar biasa, integritas dan tak terkalahkan melawan kekuatan apartheid, dia juga lembut dan rentan dalam belas kasihnya bagi mereka yang telah menderita penindasan, ketidakadilan dan kekerasan di bawah apartheid, dan orang-orang yang tertindas dan tertindas di seluruh dunia." imbuhnya.

Kematian Tutu terjadi hanya beberapa minggu setelah presiden kulit putih terakhir Afrika Selatan, FW de Clerk, meninggal dunia pada usia 85 tahun.


(rdp/gbr)