Australia Tak Bikin Pembatasan Ketat Saat Natal Meski Kasus Covid Tinggi

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 19 Des 2021 15:41 WIB
Pemerintah Australia akan cabut larangan perjalanan internasional tanpa izin bagi warga negaranya. Kebijakan itu rencananya akan dilakukan mulai akhir tahun ini
Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Para pejabat Australia mengatakan tidak perlu memberlakukan pembatasan saat perayaan Natal nanti meski kasus baru COVID-19 tinggi. Hal ini lantaran angka vaksinasi Australia cukup tinggi dibanding negara lain.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (19/12/2021) Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan dia yakin Australia tidak perlu mengikuti Belanda, yang telah menerapkan kembali lockdown ketat selama periode Natal dan Tahun Baru untuk mengekang penyebaran varian Omicron yang sangat menular.

"Kami akan memasuki musim panas, kami memiliki salah satu tingkat vaksinasi tertinggi di dunia dan keadaan yang sangat berbeda. Jadi kami tidak melihat kemungkinan situasi itu bakal dilakukan di Australia," kata Hunt kepada wartawan dalam konferensi media yang disiarkan televisi.

Hunt mengatakan Belanda memiliki kasus penularan dan kematian yang jauh lebih tinggi daripada Australia selama pandemi dan sekarang berada di musim dingin yang dalam ketika kasus-kasus lebih mungkin melonjak drastis.

"Kami sangat siap dan orang-orang sangat ... terus melakukan pekerjaan luar biasa," kata Hunt, merujuk pada data di mana lebih dari 90% warga Australia berusia di atas 16 tahun telah divaksinasi lengkap.

Diketahui negara bagian terpadat di Australia, New South Wales, pada hari Minggu (18/12) melaporkan rekor 2.566 kasus baru. Angka itu naik dari 2.482 kasus pada hari sebelumnya. Sementara itu, kasus dalam perawatan intensif tetap rendah di angka 28, yang menurut Perdana Menteri negara bagian Dominic Perrottet "sangat positif".

Dalam seminggu terakhir, New South Wales melaporkan lebih dari 11.000 kasus baru, empat kali lipat jumlah pada minggu sebelumnya. Akibatnya, Asosiasi Medis Australia (AMA) dan sebuah kampanye online menyerukan desakan agar NSW menerapkan kembali tracing, kewajiban masker hingga pembatasan kapasitas dalam kegiatan warganya.

"Bahkan jika gejala Omicron ternyata ringan pada orang yang divaksinasi, ledakan kasus akan berdampak buruk pada perawatan kesehatan ... Perhatian sekarang jauh lebih baik daripada penyesalan nanti," kata Presiden AMA Omar Khorshid di media sosial.

Namun, Perrottet menolak seruan itu dengan mengatakan metrik kunci penanganan COVID-19 adalah jumlah kasus dalam perawatan intensif.

"Ini adalah waktu untuk tenang. Tetapi ini juga merupakan waktu yang penting untuk keluar dan mendapatkan suntikan booster Anda, karena vaksinasi telah menjadi kunci keberhasilan New South Wales," kata Perrottet.