AS Ancam Sanksi Baru untuk Tekan Junta Militer Myanmar

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 15 Des 2021 17:50 WIB
US Secretary of State Antony Blinken speaks about US leadership in fighting the global coronavirus disease (COVID-19) pandemic during an event at the State Department in Washington, DC on April 5, 2021. (Photo by ALEXANDER DRAGO / POOL / AFP)
Antony Blinken (dok. AFP/ALEXANDER DRAGO)
Kuala Lumpur -

Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan langkah-langkah baru untuk menekan junta militer Myanmar agar kembali ke 'lintasan demokratik'. Hal ini disampaikan saat kekhawatiran semakin berkembang soal aksi kekerasan oleh militer Myanmar.

Seperti dilansir AFP, Rabu (15/12/2021), Myanmar dilanda kekacauan sejak pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi dilengserkan oleh kudeta militer pada Februari lalu.

AS telah menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap junta militer Myanmar. Sementara blok regional Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) menyusun roadmap menuju perdamaian, namun ada keraguan besar soal komitmen para jenderal-jenderal militer Myanmar.

Berbicara dalam kunjungan ke Malaysia -- salah satu negara ASEAN yang mengkritik kudeta militer di Myanmar, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Antony Blinken, mengakui bahwa 'situasinya belum membaik'.

"Saya pikir akan menjadi sangat penting dalam beberapa minggu dan bulan ke depan untuk melihat langkah dan tindakan tambahan apa yang kita bisa ambil -- secara individu, secara kolektif -- untuk menekan rezim agar mengembalikan negara itu ke lintasan demokratik," ujar Blinken.

"Itu adalah sesuatu yang kami pertimbangkan," imbuhnya, tanpa menyebutkan langkah apa yang mungkin diambil.

Kudeta militer memicu unjuk rasa secara nasional, namun otoritas junta militer Myanmar merespons dengan penindakan sarat kekerasan yang menewaskan lebih dari 1.300 orang dan berujung ribuan orang ditangkap.