International Updates

800.000 Orang Meninggal di AS karena Corona, Agen FBI Diselidiki Gegara PSK

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 15 Des 2021 17:10 WIB
FILE - Medical staff move a COVID-19 patient who died onto a gurney to hand off to a funeral home van, at the Willis-Knighton Medical Center in Shreveport, La., Aug. 18, 2021. The U.S. death toll from COVID-19 topped 800,000, a once-unimaginable figure seen as doubly tragic, given that more than 200,000 of those lives were lost after the vaccine became available practically for the asking. (AP Photo/Gerald Herbert, File)
ilustrasi (Foto: AP Photo/Gerald Herbert, File)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) melaporkan total kematian akibat virus Corona (COVID-19) di wilayahnya telah melampaui angka 800.000 orang. Dari jumlah itu, sekitar 200.000 kematian di antaranya terjadi setelah vaksin Corona tersedia secara praktis di negara tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (15/12/2021), total kematian akibat Corona di AS, yang didasarkan pada penghitungan Johns Hopkins University yang menjadi acuan dunia itu, diperkirakan sama dengan total jumlah populasi kota Atlanta dan kota St Louis jika digabung, atau total jumlah populasi kota Minneapolis dan Cleveland jika digabung.

Jumlah total itu juga diperkirakan setara dengan jumlah warga AS yang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit jantung atau stroke.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Rabu (15/12/2021):

- Studi AS: Vaksin Corona Tak Efektif Lawan Omicron Tanpa Dosis Booster

Tiga vaksin virus Corona (COVID-19) yang disetujui penggunaannya di Amerika Serikat (AS) disebut secara signifikan kurang protektif terhadap varian baru Omicron dalam pengujian di laboratorium. Namun, dosis booster dinilai bisa memulihkan sebagian besar perlindungan.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (15/12/20210, hal tersebut disampaikan dalam studi terbaru dari para peneliti pada Massachusetts General Hospital (MGH), Harvard, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Studi yang dirilis pada Selasa (14/12) waktu setempat itu belum menjalani peer-review atau penelaahan oleh para pakar lainnya.

Studi itu menguji darah dari orang-orang yang telah menerima vaksin Corona buatan Moderna, Johnson & Johnson dan Pfizer-BioNTech terhadap pseudovirus yang direkayasa agar menyerupai varian Omicron.

- Naik Lagi, Prancis Catat 63.000 Kasus Corona Sehari!

Otoritas Prancis melaporkan lebih dari 63.000 kasus virus Corona (COVID-19) dalam sehari. Angka ini tercatat sebagai jumlah kasus harian Corona tertinggi kedua sejak April tahun ini.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (15/12/2021), data terbaru Kementerian Kesehatan Prancis menyebutkan 63.405 kasus Corona terdeteksi dalam 24 jam terakhir.

Dengan tambahan tersebut, maka total 8,33 juta kasus Corona kini terkonfirmasi di wilayah Prancis.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa tambahan kasus itu membuat rata-rata kasus baru Corona dalam tujuh hari mencapai 49.506 -- angka rata-rata tertinggi sepanjang tahun 2021.

- WHO Soroti Kasus Corona di Afrika Naik 83 Persen dalam Sepekan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kawasan Afrika mengalami lonjakan kasus virus Corona (COVID-19) tercepat sepanjang tahun ini. Kawasan Afrika mencatat kenaikan kasus Corona sebesar 83 persen dalam sepekan terakhir, meskipun angka kematian tetap rendah.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (15/12/2021), WHO menyebut lonjakan kasus Corona di kawasan Afrika ini didorong oleh varian Delta dan Omicron.

Simak Video: Angka Kematian Covid-19 di AS Tembus 800 Ribu Jiwa

[Gambas:Video 20detik]