AS dan Negara Barat Kutuk Keras Taliban yang Bunuh Eks Pasukan Afghanistan

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 09:35 WIB
Pasukan Taliban memperketat pengamanan di kawasan Kabul, Afghanistan, usai dua ledakan mengguncang RS militer di Kabul. Ledakan itu dilaporkan tewaskan 19 orang
Foto: Taliban bunuh puluhan eks pasukan keamanan Afghanistan (AP Photo/Ahmad Halabisaz)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) mengajak beberapa negara Barat dan sekutunya untuk ramai-ramai mengutuk Taliban atas pembunuhan para mantan anggota pasukan keamanan Afghanistan. Kasus ini dilaporkan oleh organisasi HAM.

Dilansir AFP, Minggu (5/12/2021) seruan dari AS itu disampaikan pada Sabtu (4/12) waktu setempat. AS mengajak Inggris, Uni Eropa hingga Australia untuk mengutuk tindakan Taliban. Mereka menuntut agar kasus ini ditangani cepat.

"Kami sangat prihatin dengan laporan pembunuhan dan penghilangan paksa mantan anggota pasukan keamanan Afghanistan seperti yang didokumentasikan oleh Human Rights Watch dan lainnya," bunyi pernyataan bersama AS, Uni Eropa, Australia, Inggris, Jepang, dan lainnya.

"Kami menggarisbawahi bahwa tindakan yang dituduhkan merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan bertentangan dengan amnesti yang diumumkan Taliban," lanjut pernyataan itu.

Mereka mendesak penguasa baru Afghanistan untuk memastikan amnesti ditegakkan dan 'dijunjung tinggi di seluruh negeri dan di seluruh jajaran mereka'.

Diketahui, awal pekan ini Human Rights Watch merilis sebuah laporan yang mendokumentasikan ringkasan eksekusi atau penghilangan paksa 47 mantan anggota Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan (ANSF), personel militer lainnya, polisi dan agen intelijen 'yang telah menyerah atau ditangkap oleh Pasukan Taliban' dari pertengahan Agustus hingga Oktober.

"Kasus yang dilaporkan harus diselidiki segera dan secara transparan, mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban, dan langkah-langkah ini harus dipublikasikan dengan jelas sebagai pencegah langsung terhadap pembunuhan dan penghilangan lebih lanjut," ungkap negara-negara tersebut.

Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus lalu. Pengambil alihan kekuasaan ini dilakukan saat dukungan pemerintah AS di Kabul dan militer negara itu runtuh.

AS mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Taliban awal pekan ini ketika mendesak kelompok Islam garis keras itu untuk menyediakan akses pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh negeri.

Simak Video 'Taliban Kepung Selama 8 Jam Persembunyian ISIS':

[Gambas:Video 20detik]



(rdp/dhn)