Kanada Catat 15 Kasus Baru Omicron, Tren COVID-19 Parah Diprediksi Naik

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 04 Des 2021 17:06 WIB
An Ottawa Public Health officer (R) speaks with the next person in line at the COVID-19 testing center March 23, 2020 in Ottawa, Canada. (Photo by Dave Chan / AFP)
Ilustrasi (dok. AFP/DAVE CHAN)
Ottawa -

Otoritas Kanada mendeteksi 15 kasus baru varian baru virus Corona (COVID-19), Omicron, di sejumlah wilayahnya. Tren penyakit COVID-19 yang parah diprediksi akan mulai meningkat kembali di negara ini.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (4/12/2021), pemerintah federal Kanada menyatakan mendukung rekomendasi dewan penasihat nasional agar semua warga dewasa berusia 50 tahun ke atas menerima suntikan booster vaksin Corona sekitar enam bulan usai menerima dua dosis penuh.

Pekan lalu, otoritas kota Ottawa mengumumkan akan mewajibkan orang-orang yang tiba di wilayahnya via jalur udara dari berbagai negara, kecuali Amerika Serikat (AS), untuk menjalani tes Corona. Ottawa juga memperluas larangan perjalanan untuk negara-negara Afrika bagian selatan yang mencakup 10 negara.

"Kebutuhan akan kewaspadaan yang lebih tinggi tetap ada, terlepas varian mana yang beredar," sebut kepala otoritas kesehatan setempat, Theresa Tam, kepada wartawan setempat.

Tam dalam pernyataannya pada Jumat (3/12) waktu setempat, juga mengumumkan bahwa 11 kasus baru varian Omicron terkonfirmasi, yang semuanya melibatkan orang-orang yang baru pulang dari perjalanan ke luar negeri.

Beberapa jam usai Tam berbicara, otoritas kota York melaporkan seorang anak dengan usia di bahwa 12 tahun didiagnosis dengan varian Omicron. Anak ini diketahui baru saja bepergian ke negara Afrika bagian selatan.

Otoritas Toronto kemudian melaporkan tiga kasus varian Omicron pertama di wilayahnya pada Jumat (3/12) tengah malam. Disebutkan bahwa dua orang yang terinfeksi varian Omicron baru pulang dari Nigeria, sedangkan satu lainnya baru tiba dari Swiss.

"Saat ini tren penyakit parah telah stabil, namun masih ada kenaikan dan bisa mulai meningkat kembali, kecuali kita menjaga angka penularan tetap rendah," cetus Tam dalam pernyataannya.

(nvc/idh)